Skip to main content
Kumpulan Puisi Dan Syair Islami Karya Syekh Hamzah Fansuri

Kumpulan Puisi Dan Syair Islami Karya Syekh Hamzah Fansuri

Kumpulan puisi dan syair Islami Syekh Hamzah Fansuri. Setelah beberapa karya tokoh sastra Indonesia yang dipublikasikan blog puisi dan kata bijak, kali ini adalah karya Hamzah Fansuri.

Hamzah Fansuri adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai sastrawan Islam berasal dari Barus (tapanuli tengah) terkenal sebagai penganut aliran wahdatul wujud, seorang sastrawan pengkaji karya karya esoterik atau mistik serta pengikut setia aliran tasawuf Ibn Arabi.

Dari beberapa Syair-syair Hamzah Fansuri yang merupakan karangan mistik Islam yang berhakikat makrifat jami’a bainahuma, yakni ilmu yang melingkupi dan menghubungkan wujud fenomenal/wahmi dan wujud kesegalaan.

Berikut ini enam judul syair Hamzah Fansuri yang diterbitkan puisibijak.com diantaranya:

Dari segi tema setiap syair yang dikarang Hamzah al Fansuri membahas salah satu aspek tasawuf yang dianut oleh sang penyair Hamzah Fansuri sehingga syair dan puisi Hamzah Fansuri selalu bernafaskan islam.

Kumpulan Puisi Dan Syair Islami Karya Hamzah Fansuri

Syair Hamzah Fansuri terdiri atas 13-21 bait. Setiap bait terdiri atas empat baris, yang berima a-a-a-a. Pada umumnya jumlah kata tiap baris ada empat, meskipun terdapat pengecualian.

Menuru sejarah syair syair Hamzah al-Fansuri banyak terpengaruh puisi-puisi Arab dan Persia (seperti rubaiyat karya Umar Khayyam), namun terdapat perbedaan. Rima rubaiyat adalah a-a-b-a, sedangkan syair Hamzah al-Fansuri memakai a-a-a-a.

Syair Hamzah Fansuri Perahu

Bagian pertama puisi Hamzah Fansuri adalah syair perahu, bagaimana kata kata islami dalam bait bait syair berjudul perahu selengkapnya disimak saja dibawah ini

Puisi Dan Syair Islami Karya Syekh Hamzah Fansuri

Syair Perahu

Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i'tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba'id.

Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu 'azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na'am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
"yakin akan Allah" nama pawangnya.

"Taharat dan istinja'" nama lantainya,
"kufur dan masiat" air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
"Allahu Akbar" nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.

"Wallahu a'lam" nama rantaunya,
"iradat Allah" nama bandarnya,
"kudrat Allah" nama labuhannya,
"surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam'ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,

Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma'rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da'im dan ka'im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma'rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.

Syair Hamzah Fansuri Burung Unggas

Selanjutnya puisi Hamzah Fansuri dalam bentuk syair Islami adalah syair burung unggas, Nah bagaimana Isi syair keagamaan Hamzah al-Fansuri selengkapnya disimak saja dibawah ini

Syair Burung Unggas

Unggas itu yang amat burhana,
Daimnya nantiasa di dalam astana,
Tempatnya bermain di Bukit Tursina,
Majnun dan Laila adalah disana.

Unggas itu bukannya nuri,
Berbunyi ia syahdu kala hari,
Bermain tamasya pada segala negeri,
Demikianlah murad insan sirri.

Unggas itu bukannya balam,
Nantiasa berbunyi siang dan malam,
Tempatnya bermain pada segala alam,
Disanalah tamasya melihat ragam.

Unggas tahu berkata-kata,
Sarangnya di padang rata,
Tempat bermain pada segala anggota,
Ada yang bersalahan ada yang sekata.

Unggas itu terlalu indah,
Olehnya banyak ragam dan ulah,
Tempatnya bermain di dalam Ka’bah,
Pada Bukit Arafat kesudahan musyahadah.

Unggas itu bukannya meuraka,
Nantiasa bermain di dalam surga,
Kenyataan mukjizat tidur dan jaga,
Itulah wujud meliputi rangka.

Unggas itu terlalu pingai,
Nantiasa main dalam mahligai,
Rupanya elok sempurna bisai,
Menyamarkan diri pada sekalian sagai.

Unggas itu bukannya gagak,
Bunyinya terlalu sangat galak,
Tempatnya tamasya pada sekalian awak,
Itulah wujud menyatakan kehendak.

Unggas itu bukannya bayan,
Nantiasa berbunyi pada sekalian aiyan,
Tempatnya tamasya pada sekalian kawan,
Itulah wujud menyatakan kelakuan.

Unggas itu bukannya burung,
Nantiasa berbunyi di dalam tanglung,
Tempat tamasya pada sekalian lurung,
Itulah wujud menyatakan Tulung.

Unggas itu bukannya Baghdadi,
Nantiasa berbunyi di dalam jawadi,
Tempatnya tamasya pada sekalian fuadi,
Itulah wujud menyatakan ahli.

Unggas itu yang wiruh angkasamu,
Nantiasa asyik tiada kala jemu,
Menjadi dagang lagi ia jamu,
Ialah wujud menyatakan ilmu.

Thairul aryani unggas sulthani,
Bangsanya nurur-Rahmani,
Tasbihatal’lah subhani,
Gila dan mabuk akan Rabbani.

Unggas itu terlalu pingai,
Warnanya terlalu terlalu bisai,
Rumahnya tiada berbidai,
Dudujnya daim di balik tirai.

Putihnya terlalu suci,
Daulahnya itu bernama ruhi,
Milatnya terlalu sufi,
Mushafnya bersurat kufi.

Arasy Allah akan pangkalnya,
Janibul’lah akan tolannya,
Baitul’lah akan sangkarnya,
Menghadap Tuhan dengan sopannya.

Sufinya bukannya kain,
Fi Mekkah daim bermain,
Ilmunya lahir dan batin,
Menyembah Allah terlalu rajin.

Kitab Allah dipersandangkannya,
Ghaibul’lah akan pandangnya,
Alam Lahut akan kandangnya,
Pada ghairah Huwa tempat pandangnya.

Zikrul’lah kiri kanannya,
Fikrul’lah rupa bunyinya,
Syurbah tauhid akan minumnya,
Dalam bertemu dengan Tuhannya.

Syair Hamzah Fansuri Dagang

Syair karya Hamzah al-Fansuri selanjutnya adalah Syair Dagang yang mengingat kita bahwa di dunia ini kita adalah orang asing yang pergi merantau dan singgah sementara untuk mengumpulkan bekal.

Kampung halamannya yang sejati bukan di dunia ini. Dunia ini adalah sebuah pentas atau pasar yang disinggahi oleh para musafir dalam perjalanannya menuju ke negeri lain (akhirat)

Syair Dagang

Hai sekalian kita yang kurang
nafsumu itu lawan berperang
jangan hendak lebih baiklah kurang
janganlah sama dengan orang

Amati-amati membuang diri
menjadi dagang segenap diri
baik-baik engkau fikiri
supaya dapat emas sendiri

Wahai dagang yang hina
Ketahui hidup dalam dunia
Sebagai jati tiada berbunga
Bagi burung tiada berguna

Wahai sekalian kita yang kurang
Nafsumu itu lawan berperang
Jauhkan tamak baiklah kurang
Jaga dirimu jatuh ke jurang

Amat-amati membuang diri
Menjadi dagang di segenap negeri
Baik-baik engkau fikiri
Supaya selamat hari-hari.

Syair Hamzah Fansuri Burung Pingai

Syair si Burung Pingai merupakan karya tasyawuf Hamzah Fansuri dalam Pencapaian Diri Akan Hakikat dirinya, melambangkan jiwa seorang musafir dengan tamsil burung unggas sebagai wujud kebebasan seseorang dan perjalanan rohani seorang dalam mencari jati diri yang sebenarnya

SYAIR SI BURUNG PINGAI (THAIR AL-‘URYAN)

/ I /
Thair al-‘Uryan unggas ruhani
Di dalam kandang hadrat Rahmani
Warnainya pingai terlalu sufi
Tempatnya kursi yang maha ‘ali

Sungguhpun ‘uryan bukannya gila
Mengaji al-Qur’an dengan tertila
Tempatnya mandi sungai salsabila
Di dalam firdaus ra’su Zanjabila

Sungai ini terlalu ‘ali
Akan minuman Thayr al-‘Uryan
Setelah minun jadi hairani
Takar pun pecah belah serahi

Minuman itu terlalu larang
Harganya banyak artamu alang-alang
Badan dan nyawa jangan kau sayang
Inilah harga arak yang garang

Thayr al-‘Uryan mabuknya salim
Mengenal Allah terlalu alim
Demikianlah mabuk harus kau hakim
Inilah amal Sayyid Abu al-Qasim

Minuman itu tiada terbagi
Pada Ramadhan harus kau pakai
Halal Thayyiban pada sekalian sakai
Barang meminum dia tiadakan lalai

Minuman itu telalu sufi
Yogya akan syurbaty maulana qadi
Barang meminum dia Tuhan kita radi
Pada kedua alam ia Hayy al-Baqi

Minuman itu yogya kau permain
Supaya lupa engkau akan kain
Buangkan wujudmu cari yang lain
Inilah ‘Uryan pada ahl-batin

Jikau Engkau kasih akan nyawamu
Terlalu batil sekalian kerjamu
Akulah ‘Uryan jangankan katamu
Orang yang ‘Uryan bukan rupamu
Riya’ dan khayal tiada qabil
Pada orang arif yang sudah kamil
Lain dari pada mabuk dan ilmu wasit
Pada ahl-haqiqah sekalian batil

Riya’ dan khayal ilmu nafsani
Di manakan sampai pada ilmu yang ‘ali
Seperti bayazid dan Mansur Baghdadi
Mengatakan Ana al-Haqq dan Qawl Subhani

Kerjamu itu hai anak dagang
Pada ahl-ma’rifat terlalu malang
Markab tauhid yogya kau pasang
Di tengah laut yang tiada berkarang

Hamzah Fansuri di negeri Melayu
Tempatnya Kapur di dalam kayu
Asalnya manikam tiadakan layu
Dengan ilmu dunia dimanakan payu

/ II /

Unggas pingai terlalu ‘asyiq
Da’im bermain di kursi khaliq
Bangsanya Rahman yang fa’iq
Menjadi sultan terlalu la’iq

Unggas itu tahu berkata
Sarangnya di padang rata
Akan wujudnya sekalian mata
Mengenal Allah terlalu nyata

Mazhar Allah akan rupanya
Asma Allah akan namanya
Malaikat akan tentaranya
Akulah wasil akan katanya

Syapnya bernama furqan
Tubuhnya bersurat Qur’an
Kakinya Hannan dan Mannan
Da’im bertengger di tangan Rahman

Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan anggannya
Nur Allah akan matanya
Nur Muhammad da’im tenggernya

Liqa Allah nama ‘ishq-nya
Sawt Allah akan bunyinya
Rahman dan Rahim akan hatinya
Menyembah Tuhan dengan sucinya

Bumi langit akan sangkarnya
Mekkah Madinah akan pangkalannya
Bait Allah nama badannya
Di sana bertemu dengan Tuhannya

Cahayanya seperti suluh
Bunyinya seperti guruh
Matanya lengkap dengan tubuh
Bulunya da’im sekalian luruh

Rupanya akan Mahbubnya
Lakunya akan Marghubnya
Bangsanya akan Matlubnya
Buraq al-mi’raj akan markubnya

‘ilm al-yaqin nama ilmunya
‘ain al-yaqin hasil tahunya
Haqq al-yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya

Syari’at akan tirainya
Tariqat akan bidainya
Haqiqat akan ripainya
Mari’fat yang wasil akan isainya

‘Alam nasut akan hambanya
Perisai malakut akan kutanya
Duldul jabrul nama kudanya
Menyerang laut akan kerjanya

Dengarkanm hai anak jamu
Unggas itu sekalian kamu
Ilmunya yogya kamu ramu
Supaya jadi mulya adamu

/ III /

Unggas nuri asalnya cahaya
Diamnya da’im di kursi raya
Dari pada nurnya faqir dan kaya
Menjadi insa, tuan dan saya

Kuntu kanzan asalnya sarang
‘Alam lahut nama kandangnya
Terlalu luas dengan lapangnya
Itulah kanzan dengan larangnya

Aql al-kulli nama bulunya
Qalam al-‘ala nama kukunya
Allah ta’ala nama gurunya
Oleh karena itulah tiada judunya
Jalal dan Jamal nama kakinya
Nur al-awwal nama jarinya
Lawh al-mahfudzh nama hatinya
Menjadi jauhar dengan safinya

Itulah Ahmad awwal nabinya
Dari nur Allah dengan sucinya
Sekalian alam pancar nurinya
Menjadi langit serta buminya

Alam ini asal warnanya
Di sana-sini pancar sertanya
Sidang ghafil(un) dengan karmanya
Lupakan nuri dengan warnanya

Setelah zahir sekalian alam
Ia pun datang serupa Adam
Menjadi rasul Nabi yang khatam
Supaya ummatnya jangan karam

Ia(pun) datang dengan burhannya
Lengkap lagi dengan ayat Qur’annya
Yogya kau turur kata firqannya
Supaya jadi engkau qurbannya

Ahmad datang dengan satarnya
Mengatakan Allah dengan jabbarnya
Sungguhpun Tuhan dengan gaffarnya
Yogya kau turut akan qahharnya

Nabi dan wali sekalian takut
Akan jabbarnya seperti laut
Manakan dapat engkau menyahut
Di laut qahhar ke hilir hanyut

Ilmu jauhar sungguh pun qabil
Akan kuat badan hanya hasil
Pada ilmu Allah kerjanya ha’il
Antara Allah dan orang kamil

Ilmu Allah terlalu ‘ali
Dengan jawhar tiadakan kafi
Ilmu Allah yogya kau cabut
Supaya dapat hidupmu baqi

Jauhar itu terlalu mulia
Akan orang yang muda belia
Bukannya ilmu Allah yang sedia
Dengan ghayr Allah jangan bersetia
Pada dzat Allah tiadakan lulus
Akan orang yang berlumpai putus
Ahl al-jawhar makanan kurus
Seperti Ahmad dan ‘Isa lukus

Hamzah gikla berkawan-kawa
Mencari jauhar akan cahaya badan
Oleh makhluk pergi tertawan
Makanan jadi engkau bangsawan

/ IV /

Thayr al-‘Uryan unggas sultani
Bangsanya nur al-rahmani
Tasbihnya Allah subhani
Gila dan mabok akan rabbani

Unggas itu terlalu pingai
Warnanya terlalu bisai
Rumahnya tiada berbidai
Duduknya da’im di balik tirai

Awwalnya itu bernama ruhi
Millatnya terlalu sifui
Mashafnya besar suratnya kufi
Tubuhnya terlalu suci

‘Arasy Allah akan pangkalannya
Habib Allah akan taulannya
Bait Allah akan sangkarannya
Menghadap Tuhan dengan sopannya

Sufinya bukannya kain
Fil-Mekkah da’im bermain
Ilmunya zahir dan batin
Menyembah Allah terlalu rajin

Kitab Allah dipersandangnya
Ghayb Allah akan tandangnya
‘Alam lahur akan kandangnya
Pada da’irah Hu tempat pandangnya

Dzikir Allah kiri-kananya
Fikir Allah rupa badannya
Syurbat tauhid akan minumannya
Da’im bertemu dengan Tuhannya

Suluh terlalu terang
Harinya tiada berpetang
Jalannya terlalu henang
Barang mendapat dia terlalu menang

Cahayanya itu tiada berha’il
Bayna ‘ilahi dan bayna-amil
Syariatnya terlalu kamil
Barang yang mungkir menjadi jahil

Jika engkau dapat asal ilmunya
Engkaulah yang amat tertahunya
‘Amal ini engkau empunya
Di sana-sini engkaulah sukunya

Ilmunya tiada berbagai
Fadunya yogya kau pakai
Tinggalkan ibu dan bapai
Menyembah Tuhan jangan engkau lali

Ilmua ilmu yang pertama
Madzhabnya madzhab ternama
Cahayanya cahaya yang lama
Ke dalam surga bersama-sama

Ingat-ingat hai anak dagang
Nafsumu itu lawan berperang
Angkamu jadikan sarang
Citamu satu jangan bercawang

Siang hari hendak kau sa’im
Malamnya yogya kau qa’im
Kurangkan makan lagi dan na’im
Nafi dan itsbat kerjakan da’im

Tuhan kita itu yang punya ‘alam
Menimbulkan Hamzah yang sudah karam
‘Isyq-nya jangan kau padam
Supaya wasil dengan laut dalam

Syair Hamzah Fansuri Si Burung Pungguk

Selanjutnya syair karya hamzah fansuri adalah Syair Burung Pungguk yang merupakan syair karya hamzah fansuri pendek, untuk lebihjelasnya disimak saja berikut ini.

Syair Burung Pungguk

Pertama mula Pungguk merindu,
Berbunyilah guruh mendayu-dayu,
Hatinya rawan bercampur pilu,
Seperti dihiris dengan sembilu.

Pungguk bermadah seraya merawan,
“wahai Bulan,terbitlah tuan,
Gundahku tidak berketahuan,
Keluarlah tercelah awan,”

Sebuah tilam kita beradu,
Mendengarkan pungguk merindu,
Suaranya halus tersedu-sedu,
Laksana orang berahikan jodoh

Pungguk merawan setiap bulan,
Sebilang jitun berlompatan,
Bulan mengandung disebelah lautan,
Mendengarnya bersambut-sambutan….

Di atas beraksa berapa lama,
Gilakan cahaya bulan purnama,
Jikalau bulan jatuh kerama,
Di manakah dapat pungguk bersama.

“Pungguk bermadah seraya merawan,
Wahai bulan terbitlah tuan,
Gundahku tidak berketahuan,
Keluarlah bulan tercelah awan,”

Syair Karya Hamzah Fansuri Sidang Fakir

Pesan-pesan yang di sampaikan dalam bait syair sidang fakir adalah tentang sebuah nilai moral dan amanat, Agar kita menjadi manusia yang bijaksana,tidak tamak,licik dan menghalalkan segala cara, Jika kita akan melakukan sesuatu hendaklah kita memikirkan matang-matang sebelum kita bertindak,

Jangan pernah berhenti dalam menasehati orang lain sampai orang itu benar-benar di jalan benar, Carilah sahabat yang setia, Jangan pernah lalai dan sia-sia, Melarang kita untuk tergesa-gesa, Jika Mempunyai harta lebih,hendaklah kita hemat dan cernat, Sebagai sesama manusia kita harus saling memaafkan.

Syair Sidang Fakir

Bismil-L âhir-rachmânir-rachîm

Sidang fakir empunya kata
Tuhanmu zhâhir terlalu nyata
Jika sungguh engkau bermata
Lihatlah dirimu rata-rata

Kenal dirimu hai anak jamu
Jangan kau lupa akan diri kamu
Ilmu hakikat yogya kau ramu
Supaya terkenal akan dirimu

Jika kau kenal dirimu bapai
Elokmu itu tiada berbagai
Hamba dan Tuhan dâ‘im berdamai
Memandang dirimu jangan kau lalai

Kenal dirimu hai anak dagang
Menafikan dirimu jangan kau sayang
Suluh itsbât yogya kau pasang
Maka sampai engkau anak hulu balang

Kenal dirimu hai anak ratu
Ombak dan air asalnya satu
Seperti manikam much îth dan batu
Inilah tamtsil engkau dan ratu

Jika kau dengar dalam firman
Pada kitab Taurat, Injil, Zabur, dan Furqân
Wa Huwa ma‘akum fayak ûnu pada ayat Qur‘an
Wa huwa bi kulli syai‘in muchîth terlalu ‘iyân

Syariat Muhammad ambil akan suluh
Ilmu hakikat yogya kau pertubuh
Nafsumu itu yogya kau bunuh
Maka dapat dua sama luruh

Mencari dunia berkawan-kawan
Oleh nafsu khabî ts badan tertawan
Nafsumu itu yogya kau lawan
Maka sampai engkau bangsawan

Machbûbmu itu tiada berch â‘il
Pada ainamâ tuwallû jangan kau ghâfil
Fa tsamma wajhul-L âhisempurna wâ shil
Inilah jalan orang yang kâmil

Kekasihmu zhâhir terlalu terang
Pada kedua alam nyata terbentang
Pada ahlul-ma‘rifah terlalu menang
Wâ shil nya dâ‘im tiada berselang

Hapuskan akal dan rasamu
Lenyapkan badan dan nyawamu
Pejamkan hendak kedua matamu
di sana kau lihat permai rupamu

Rupamu itu yogya kau serang
Supaya sampai ke negeri yang henang
Seperti Ali tatkala berperang
Melepaskan Duldul tiada berkekang

Hamzah miskin orang ‘uryâ ni
Seperti Ismail menjadi qurbâni
Bukannya ‘Ajam lagi ‘Arab î
Senantiasa wâshil dengan Yang Bâ qî

Demikianlah kumpulan puisi dan syair islami karya Hamzah Fansuri seorang sastrawan, ulama dan pujangga tersohor di Nusantara, Baca juga tokoh sastra indonesia lainnya dihalaman blog puisi dan kata bijak, semoga puisi Hamzah Fansuri diatas dapat bermanfaat.

Supaya mudah mengakses Puisi Dan Kata Bijak di smartphone, klik ikon 3 titikdi browser Chrome kemudian pilih "Tambahkan ke layar utama". Selanjutnya bisa mengakses Puisi Dan Kata Bijak dari layar utama smartphone dengan klik ikon Puisi Dan Kata Bijak.
Buka Komentar
Tutup Komentar