Renungan Tentang Ibu yang Mengharukan
Renungan Tentang Ibu yang Mengharukan

Renungan Tentang Ibu yang Mengharukan

Renungan tentang Ibu yang mengharukan. Sudah berbagai macam judul dan tema puisi ibu diupdate blog puisi dan kata bijak.

Seperti puisi terima kasih ibu, yang berisi ucapan terima kasih kepada ibu tercinta, puisi pengorbanan seorang ibu, puisi ibu singkan dan macam macam puisi sedih untuk ibu.

Dan untuk kali ini cerita tentang ibu bukan puisi, akan tetapi sebuah renungan sedih tentang ibu yang sangat menyentuh di hati.

Artikel atau teks renungan tentang Ibu ini saya ambil dari berbagai sumber di internet, sebab saya tertarik untuk menyebarluaskan karena kata kata untuk ibu dan susunan kalimat sangat mengharukan dan menyentuh di hati dan juga menginspirasi.

Sehingga tertarik mengupdate di blog puisibijak.com , Namun nama penulisnya saya kesulitan mengetahuinya, sebab teks renungan tentang ibu yang mengharukan ini.

Sudah banyak yang dimodifikasi dan juga yang serupa dan judulnya pun juga berbeda- beda. Dan disini saya memberi judul renungan tentang ibu yang mengharukan.

Sebenarnya artikel renungan tentang ibu yang mengharukan ini merupakan karya lama seseorang, yang sudah beberapa kali berpindah tempat sehingga nama penulis aslinya susah diketahui padahal artikel yang menceritakan tentang ibu, ini sangat bagus dan menginspirasi.

Penasaran....? yuk kita simak saja renuang untuk ibu dibawah ini.


Renungan Tentang Ibu yang Mengharukan

Bukanlah tidak mungkin jika sangatlah banyak orang orang sukses di seluruh dunia ini lantaran mempunyai hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya terlebih kepada ibu.

Kenapa? Karena ridha Allah ialah ridha orang tua, dan doa ibu itu sungguh tanpa hijab di hadapan Allah mudah menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang ia dipanjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk Allah kabulkan.

Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui.

Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.

Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis.

Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.

Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.

Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.

Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium.

Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna.

Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.

Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.

Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya.


Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.

Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita?

Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya?
Kapan terakhir kita membentak-bentaknya?

Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan?

Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam.

Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.

Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu.

SUBHANALLAH...

Demikialah renungan tentang ibu yang mengharukan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Baca juga puisi ibu atau puisi tentang ibu, dan kata kata ibu, yang diupdate di blog ini, terima kasih sudah berkunjung di blog puisi dan kata,

Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Supaya mudah mengakses Puisi Dan Kata Bijak di smartphone, klik ikon 3 titikdi browser Chrome kemudian pilih "Tambahkan ke layar utama". Selanjutnya bisa mengakses Puisi Dan Kata Bijak dari layar utama smartphone dengan klik ikon Puisi Dan Kata Bijak.
Buka Komentar