Skip to main content

Puisi Tangga Menuju Gersangnya Jiwa

Puisi Tangga Menuju Gersangnya Jiwa
Puisi tangga menuju gersangnya jiwa. Sajak-sajak bertangis menyibak sedih kesedihan tak terungkap, Dari tangan-tangan manusia malam, sepi menjadi tarʋhan, Kau pahat langit dengan angan mengambang di tanah gersang. dari jasat yang tak berdosa.

Tangga menuju gersangnya jiwa, judul ini hanya kombinasi dua judul puisi dari tiga puisi di kesempatan ini, adapun masing masin judul puisinya antara lain.
  1. Puisi gersangnya jiwa
  2. Puisi tangga
  3. Puisi menuju
Bagaimana cerita dan makna dari ketinga puisi tersebut, untuk lebih jelasnya silahkan disimak saja puisinya berikut ini.

PUISI GERSANGNYA JIWA
Muklis Puna

Wahai jiwa kegerahan iman
Berkacak pinggang menatap surya
Mengusut tanya yang tak terjawab
Mengintai penyangga langit dipasakkan
Menyidik-sidik gantungan matahari
Mengusir mendung melihat bulan berteduh

Wahai jiwa kemarau iman
Mencari pusaran angin di tengah gemuruh nya petir
Menakar tumpah ruah air berbalut angin
Menyelami samudera dengan penggalan napas terengah
Mengintip di balik sekat sekat kerak menggunung

Wahai jiwa jiwa penasaran
Kau pahat langit dengan angan mengambang
Kau tantang Tuhan, padahal saraf tak bergetar
Mengapa ingin menopang langit padahal penamu cuma sejengkal

Wahai jiwa -jiwa sombong
Kenapa sibuk menenlajangi alam
Bongkar dulu dada mu
Bersihkan ususmu agar nafsu menjauh
Kikis habis doktrin malaikat durhaka dalam darahmu
Keluarkan jantungmu dari jasad berdosa
Sirami dengan alunan Ilahi agar kau tertunduk

Wahai jiwa- jiwa gentayangan nyata

Lhokseumawe, 3 Juni 2016


PUISI TANGGA
Roso Rusmini

Pintu membuka rentang
Bahwa banyak tangga-tangga ke atas
Tentu berhias sunar penerang

Sementara kaki penuh jelaga
Menggʌmbar jalan-jalan
Siluet bias membayang raga
Jiwa menengok,menatap
Pada kesima tiada mengerti
Akukah...

Kadang melayang tak kembali
Biarkan menjadi onggok tiada makna
Memaku diam..
Namun jualah ia meminjam catatan
Lalu do'a ia panjatkan
Segala pinta ia rundukkan menyentuh tanah..

Kelak ia kembali pada sang penuntun
Tiada pernah waktu menipu
Hanya kesabaran serupa pasrah

Tangga itu tak pernah melipat diri

040516


PUISI MENUJUMU

Seharu denting gerimis malam
puisi berlirih menyibak sepi
berlagu segala yang terapal di hati

Menatap langit
bintang terjatuh
semakin kutatap
debur ombak menyibak wajah
Kulantunkan Doa paling syahdu--menujuMu

Saat sajak-sajak bertangis menyibak sedih kesedihan tak terungkap.
Dari tangan-tangan manusia malam
sepi menjadi tarʋhan

Setelah semua selesai
Sejenak menyibak malam
Hanya gelegar di langit menyambut pekatnya
oh...
Semoga esok pagi masih ada mentari
Buat kita di bumi

Ajt
Jakarta 040616


Demikianlah puisi tangga menuju gersangnya jiwa. Baca juga puisi puisi yang lain yang ada di blog ini atau kata kata bijak yang kami sajikan untuk anda.  Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat, Jangan lupa di share puisinya, bila menurut anda menarik... Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya dengan label aneka puisi. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.