Puisi Pendek Tentang Kata Kata Hati
Puisi Pendek Tentang Kata Kata Hati

Puisi Pendek Tentang Kata Kata Hati

Puisi pendek tentang kata kata hati. Puisi pendek adalah puisi yang singkat, terkadang juga hanya satu bait bahkan ada yang tidak berbait, puisi pendek biasa juga disebut puisi telʌnjʌng,  puisi tanpa judul seperti puisi di kesempatan ini.yang membahasa tentang kata kata hati yang sedih dan kecewa,

Sedangkan pengertian kata hati adalah kemampuan membentuk keputusan perihal yang baik serta benar dan yang buruk/salah bagi manusia. kata hati erat kaitannya dengan moral dan perbuatan, manusia dalam hidupnya.

Peranan kata hati dalam hidup adalah mutlak tak dapat ditawar dan juga hanya sepintas keluarnya dengan disadari atau tanpa disadari kata hati kata hati adalah sura jujur dari, mutlak tak dapat ditawar dengan pertimbangan dalam bentuk apapun. mungkin begitulah sekilas tentang kata hati.

Salah satu kalimat dari puisi pendek iini. "Aku telah hanyut di sungaimu, Hingga tak terasa aku telah terombang ambing dengan pertarungan di arung jeram, Kini aku sampai di tepian yang keramkan segalaku dan karamkan rasaku, Entah aku menang atau kalah, Yang pasti ragaku masih utuh, Tapi tidak untuk hatiku". selengkapnya disimak saja puisinya berikut ini.

Puisi pendek tentang kata kata hati

Suatu hari nanti....
Kau akan hilang arah mencariku
Jauh dari pandang kasat matamu
Jangan bingung sayang....
Masihku bersembunyi di hatimu
Meski ragaku melanglang di dunia semu ini
Karena aku pun bisa melakukan seperti yang kau lakukan

Berbuatlah sesukamu....
Kemarin adalah episode terakhir cemburuku
Selanjutnya...Aku mati rasa!

Tiada lagi hibaan yang berlebih
Cinta bagiku hanya satu
Kau terlihat khianat...
Aku kan menjauh tanpa penah kau sadari
Hatiku membaca jiwamu...
Lewat aksaramu yang bagai sampah berserak di mataku


Nanti kan kau sadari.....
Di tengah taman bunga mawarmu
Akulah si Mawar Putih gʌmbaran bunga cinta dari ketulusan

Kata-kata memang tidak bisa di pegang
karena kata-kata itu memanglah bukan pilar penopang

Kutelusuri tamanmu
Begitu banyak mawar yang indah
Kumendekat...berdarahku kena durinya
Kuhisap...namun terus mengucur
Hingga kulunglai tak berdaya

Aku hanyalah melati kecil rapuh
Yang lemah namun aku punya cinta menguatkanku
Hanya satu warna...putihku memadah

Kumencinta tiada terkira
Pada kumbang pencinta beribu mawar

Aku....tak punya banyak warna
Seperti mawar di tamanmu
Hanya putih ketulusan

Pada kumbang kusampaikan
Aku tak sanggup kalahkan indahnya goda sang mawar
Karena kau terlihat mudah terjatuh oleh mekarnya
Sedang aku...hanya melati kecil yang tak begitu indah

Teruslah bernyanyi di sana
Aku di sini menepi
Mendengarmu jauh dalam diam
Kusudahi saja episode cemburu ini
Pelan pelan kunikmati sendiri
Meluahkan sesak hati yang tak sanggup lagi menata kata
aku ingin pulang ke bilikku saja
Mungkin akan lebih nyaman mendinginkan asa yang terus terbakar

Kosong
Nisan tak bernama
Pusara hilang tertinggal wangi kamboja
Taburan bunga tiada lagi berharga
Karena wanginya jauh tercium di sudut kalbu berkabut

Belahan jiwa belahan terasa
Di antara jasad dan ruhku
Bergentayangan mencari kubur sunyi
Terpisah lolongan riuh memekik separuhku
Aku masih di sini....dikubangan hati bersemayam tempatmu menyimpan dilema
Yang entah untuk berapa lama

Masih menggantung di langit jingga
Kejoramu binaran yang paling terang
Terkesima pandangku belum juga bisa kulepas
Apa daya....
Pagi datang menyapu malamku saat kureguk cawan @nggur bertulis cinta di tinta emas
Di bawah permadani mahligai kita

Aku mati rasa
Lidah tak lagi bisa mengeja tentang rasa apa ini
Bukan juga hambar
Mungkin ada sesuatu ramuan yang tak bisa kukenali
Lalu kuteguk tanpa mengerti apa-apa

Mungkin akan lebih tenang
Bila jiwa ini terkubur di sini
Untuk sementara waktu...

Kuningmu serupa emas
Kemilau mewarna di tamanku
Persembahan cinta dari hati

Oh...mekarku
Aku cemburu pada angin malam
Liukkan indahmu pada kerlipan kunangkunang

Pada mawar merupa hiasan lama
Aksara mengatup bukaan alibiku
Sekumpulan prasangka menyalak kepada hati ternoda

Aku mencinta...
Aku cemburu...
Makna mawar kuning yang sedang menumbu

Tidak akan ada jiwa yang gersang bila kita masih punya iman
Iman buat hamba2Nya yang terpilih
Disebaliknya ada ketulusan...
tulus menerima tentang takdir baik dan buruk....
semua disebut ujian...
ujian untuk menguatkan....
bukan melemahkan!

Sungguh...
Aku tlah hanyut di sungaimu
Hingga tak terasa aku tlah terombang ambing dengan pertarungan di arung jeram
Kini aku sampai di tepian yang keramkan segalaku dan karamkan rasaku
Entah aku menang atau kalah
Yang pasti ragaku masih utuh
Tapi tidak untuk hatiku....
remuk hancur menyerpih!

Kamu cinta...
Tapi kamu pukul keras hatiku
Aku wanita lemah....bersalah
Takkan mau dibandingkan dengan orang lain
Kamu takkan bisa memahami apa yang kurasa...
Caramu, logikamu enyahkan perasaanku
Wanita seburuk apapun masih punya hati...
Akan menangis membaca semua pesanmu
Makasih untukmu yang kusayang...!


Hingga berapa larik duka hitam belum usai terbaca
Lembar per lembar kisah menghujam darah
Tidakkah kau lihat aku tuan?
Tetes tetesnya kau remas bernanah
Suaraku habis tak lagi bisa teriak sakit
Alam terlalu lama mengajariku tentang ku bertahan tanpa dendam
Hingga amukan badai pun kan lumat dengan tulusku
Cinta bagiku adalah segalanya
Sebagai cermin pemantul akan katakata yang penghijrah amarah

Ampuni aku Tuhan....
Segalanya kuyakin adalah arahan tanganMu
Tampar aku lagi dengan takdirMu bila semua belumlah cukup tuk aku kuat
Apalah aku ini insan buruk dan kotor
Tiraiku tanpa iman....

Busanaku tertutup namun kotor dan lusuh....
Aku tak pantas untuk makhlukMu sesamaku
Ajaklah aku menepi Tuhan...
Hatiku masihlah lemah dan tak sempurna
Sebagaimana Engkau menciptakanku

Kini aku hilang percaya diri
Aku takut hadapi hujat makhlukMu yang mengatasnamakan kesucian....
Sedang aku ini adalah NISTA
Aku ingin menyusun kembali hatiku yang merepih...bersamaMu

Jadikan Tuhanmu adalah cermin kata
Bukan kenistaan orang lain
Bila kau saja menyodorkan cermin
Sudahkah kau sendiri berkaca?

Aku sungguh sangat berkabung
Hingga suara pun tak mampu aku keluarkan

Sang Penakluk
Sungguh aku menyesal
Hati berbelati

Ingin rasanya kumaki semua kisah yang pernah ada
Ingin rasanya kumelupa namun masih kutertahan
Ingin rasanya kuteriak bahwa aku tak seburuk itu
ingin rasanya aku berontak namun tak miliki kekuatan apa-apa

Mengapa ada bila hanya untuk menghinakan?
Mengapa ada tidak menyentuh jiwa?
Mengapa ada membelati berdarahkan hati?
Inikah namanya ujian?
Hujami beribu jarum tanpa ampun hingga melupa aku punya hati
Mengapa?
Lalu....
Masihkah aku ada alasan tuk hidupkan detak jantungku yang mulai melemah melemah tinggal menanti detik kematianku?

Nalurimu bicara sekedar meluahkan logika tanpa perasaan
....menghancurkan hati.
Sadarkah? Bila kita tercipta beda...

Tak punya tempat sandaran
Dua dunia ada hanya untuk menghardikku
Tak memahami jiwa dan sentuhi hatiku yang lemah
Hadiahkan air mata dalam diam
Merendam gumpalan kabut mendada
Kapan hilang?
Aku kini.....

Kupukupuku terbang kian kemari
Warna sayap hitamnya tinggalkan merah pada layuku
Lalu...putihnya kembali ia terbangkan pada kembang merekah
Terhisaplah putiknya dengan sayap cantikmu
Sungguh...kau kupukupuku yang cantik dengan warnamu yang sejuk luluhkan sadarku
Tak kusangka hisapmu beracun akhirnya

Bersuaralah...
Karena aku sudah sangat lelah mengurung diri dan kudiam
Atau....semua sudah terkubur...di atas bunga mawar baru yang tertanam kini

Serasa hancur ragaku terhimpit liang
Seakan telah berada dalam kematian
Sedang ruhku masih saja hidup di kehidupan
Oh...hatiku mati suri!
Memapah dalam kemelut sendiri
Siapa lagi yang akan mengerti diri
Bila cinta saja menyakiti hingga kurasa mati

Kumau ukirlah aksara pelangi di kanvas hati
Bukan menoreh darah dengan belati atas nama cinta
Tahukah aku kini tersayat oleh luka baru yang kausayat....
tersayat di atas luka lama yang belum juga sembuh?
Mengapa...mengapa harus aku dan aku lagi yang dihinakan?
Sedang adaku tulus tak pernah menduakan
Mengapa selalu saja salah mengartikan tentang aku dan segalanya....
Mengapa?

Akulah butiran debu
Yang melekat sebagai benalu
biarkan terbang jangan sampai mengotorimu

Masih bisakah kini hidup kembali sesudah mati suri?
Sedang tersenyum saja serasa kusulit...

Cinta itu mendamaikan pertikaian
Mendekatkan yang jauh
Menghapus amarah
Memutihka hitam
Dan meyakinkan keraguan
Cinta kan membawa kita kembali
----------

Terimakasih sudah menyimak/membaca Puisi pendek kata hati. Baca juga puisi-puisi yang lain atau syair-syair yang ada di blog ini. Atau lanjutan puisi pendek tentang kata kata hati. di halaman selanjutnya. terima kasih sudah berkunjung. meyimak/membaca puisinya.
Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Supaya mudah mengakses Puisi Dan Kata Bijak di smartphone, klik ikon 3 titikdi browser Chrome kemudian pilih "Tambahkan ke layar utama". Selanjutnya bisa mengakses Puisi Dan Kata Bijak dari layar utama smartphone dengan klik ikon Puisi Dan Kata Bijak.
Buka Komentar