Skip to main content

Prosa Gelisah

Prosa Gelisah
Prosa gelisah | Di antara ruang dan waktu, ada sisi-sisi yang tak nampak oleh mata. Kabur tertutup oleh kabut tebal yang putih, hingga hilang nuansanya tak berupa dan merupa. Gelap itu memotong sekian jam yang berputar, hingga hanya bunyi berpantul gaung yang berisik ribut, menggigiti masa untuk mencair dan terlihat terang akan cahaya.

Semilir angin yang berhembus dari sela-sela kaca jendela, membangunkan lelap hingga tersadar dari bayangan mimpi yang terlalu buruk untuk di ingat. Ah malam belum juga berakhir, sedangkah hati terjepit di antara resah dan gelisah akan dinginnya udara yang semakin membekukan kata untuk satu hal yang mustahil terjawab.

Menjalani sendiri langkah-langkah kaki, tanpa panduan arah yang benar atau salah, sedikit memberikan rasa limbung dan nyeri di sekitar tubuh yang sudah lemah, tak berdaya termakan satunya kehancuran asa oleh belenggu masa yang telah berakhir lalu namun masih meneteskan darah merah.

Di mana rupaku yang keras dan tubuhku yang kuat, sementara semua telah tercoreng arang hitam bekas terbakarnya lembaran-lembaran biru yang kini tinggal abu.

Benarkah jalan yang telah ku lalui ini ? Atau aku telah tersesat di dalam hutan belantara yang tidak pernah ku kenal dan tahu akan bahaya yang setiap saat akan menghadang serta menjadikan aku mangsa tanpa dapat berlari mundur dan kembali mengawali pagi dengan segala kesempurnaannya.

Bolehkah aku memohon satu kata saja ? di antara kekurangan dan kelebihan, semua keburukkan dan kebaikkan, atau kepasrahan juga ke egoan seorang insan. Satu kata yang tetap tereja dan harusnya mudah untuk di ingat, kau adalah aku dan aku akan menjadi dirimu seutuhnya, bagi pagimu, siang dan malam serta hilangnya bayanganku buatmu.

Tiada pernah aku miliki semua seutuhnya, tak pernah aku mempunyai satu saja yang tetap untuk ku banggakan sebagian dari diriku dan hanya milikku seorang.

Ah malam, serakahkah ingin dan kataku hingga bisumu adalah tetes-tetes rinai yang menanda hujan, sementara hari masih gelap dan siksaku tak dapat menikmati dirimu kala bermain dengan rerumputan yang semakin hijau, tumbuh segar oleh anugerah limpahanmu.

Apakah ini malam yang sama, atau berbeda, entahlah....
Aku hanya memaknai rasa yang ada untuk asa yang baru dan belum ku kenal dengan baik, kenapa menghampiri diriku yang terhina oleh tertawaan waktu karna sendiri dan terus sendiri dalam alam raya yang tak pernah tahu terlahir jam berapa dan berawal dari siang ataukah malam.

Aku hanya menggumpal serta merajutkan kepingan-kepingan menjadi satu kata rindu dari ribuan juta hurup yang tertumpuk di mana saja mataku melihat dan mencermati hingga tak sadar bahwa kata kerinduan itu masih setia menemani tapak kakiku yang kadang lelah berjalan di bara api yang hidup abadi.

Apakah aku manusia berbeda ?
Atau sama seperti kau,dia dan mereka ?
Dapat mudah terluka, ceria, tertawa dan tersenyum bahagia, punya wajah merona, berseri-seri, atau malu bagaikan kuncup-kuncup bunga yang merekah manja saat tersentuh jemari.

Berhak kah untuk merasa sekali lagi dan memiliki untuk termiliki, menjadi satu, membaur dengan hitam dan putihnya warna hingga menjadi kelahiran nuansa baru, yang melihat dengan penuh canda dalam kehangatan jalinan siang dan malam, penuh tanpa ruang kosong lagi berbayang mimpi buruk.

"Kata ini baru untukku"

****

Demikianlah prosa gelisah di tulis oleh angin malam . Simak/baca juga puisi puisi yang lain di blog ini. Semoga prosa di atas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel prosa selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.