Skip to main content

Puisi Wajah Rembulan

Puisi Wajah Rembulan
Puisi wajah rembulan. Kata rembulan dalam sastra biasanya hanya sebuah kata kiasan mendeskrispsikan sesuatu hal yang di alami sang penulis, sangat jarang kata rembulan dijelaskan dengan rinci jika dalam puisi sebab hanya sebagai kata persamaan dengan keadaan agar nampak menarik, karena memang sesungguhnya rembulan itu menarik dari segi cahayanya.

Rembulan memang agak lebih simpel di sebut dari pada bulan, itulah mungkkin mengapa kata rembulan sering kita temakan dalam bait bait puisi, seperti puisi di bawah ini, puisi bertema rembulan, adapun masing  masing judul puisinya antra lain.
  • Puisi wajah rembulan
  • Puisi kemelut rembulan
  • Puisi wajah prianyangan
  • Sajak layung tentang rembulan
Salah satu penggalan bait dari keempat puisi tersebut. "Pandanganmu masih meneteskan airmata masih bergelimang angkara ketika wajah rembulan Dunia ini berhias sejuta keindahan". Selengkapnya dari bait ini disimak saja puisinya berikut ini.

PUISI WAJAH REMBULAN

kutanya padamu
duhai juwita
di sudut ayumu
masihkah senyummu mengilhami
menginspirasi

tidak!
aku dalam jarak pandanganmu
masih
meneteskan airmata
masih bergelimang angkara
masih membungkus banggabangga
masih berbaju ego sang raja
masih tak terkendali
masih liar
di selasela belukar

lantas apa arti senyummu
malam ini
tak ada
percuma!

hanya halusinasi
hanya sekedar imaji
tak sampai kehati
tak menyentuhku sama sekali

sebilah belati
masih menancap dada ini

wajah rembulan
bias sinarmu
menyapaku
sang pesakitan
dalam ruang ICU

selang infus terbius
yang tak terurus
dalam sekatan
tulangtulang kurus
pipiku tirus

mataku cekung
nasibku melengkung
terkungkung
di antara geliat kangkung
terkurung
ruangruang mendung.

Fredi FA
Jkt. 050515
2122.


PUISI KEMELUT REMBULAN

Jasad berpeluh di bias rembulan
Jengah gemuruh berkabut rindu
Menanti harap di ujung titian
Menangis perih pedih nan sendu

Kemelut ber'arak angin nan lalu
Bersyair mega mendung kelabu
Bersenandung camar di ranting perdu
Meratap kasih menggores kalbu

'Ketika goyah harap dan angan
Ketika labil mimpi dan cinta
Dan ketika tenggelam kasih dan rindu

Oh mengapa....
Ketika hangatnya dekapan cahaya mentari
Harus lenyap ditelan sepinya malam?

Mengapa...
Disaat damai cumbuan rembulan
Mesti tersapu habis di arak sang awan...

Ouuh.........
Ketika semua rasa menyeruak bak gelombang
Aku dihempas di tumpukan rumbi karang
Ketika mimpi menata indah bak pelangi indah berkumandang
Kasih ku hilang di pusaran palung lautan dalam

Rembulan.........
Kemanakah syahdu warnamu
Dimakah lembutnya cahaya kasihmu
Kini rindu ini menuntut mengharapkan segala ke indahanmu

Sampaikah salam cintaku pada hembusan angin
Dan berita yg kusebar pada setiap kerling bintang gemintang
Bahwa sungguh rembulan....
Diri ini sangatlah merasa 'KEHILANGAN...

11'april 2015
by:pujangga mistis


PUISI WAJAH PRIANGANKU

Prianganku penuh belantara baja
Ladang ilalangku pasrah dibabat
Ngarai yang indah rata diaspal
Kampung jelata disulap kota ...

Pasundan sedih ... merintih ... perih
Bandung diterjang bingung ...
Dilupakan seketika padjajaran
Yang pernah mewangi penuh kenangan

Lembang dirundung bimbang ...
Selaksa mesin hancurkan alam
Membuluh nan membelukar
Mencekik sejuk udara segar

Parahyangan menyaksikan jeritan
Betapa kejam majunya zaman
Yang tak berjuang lantas terlindas
Berakhir tengadah di lampu merah

Cikapundung wadahi segala putus asa
Maribaya tak sanggup lagi berjaya
Tiada lagi kelir-kelir pancarkan candra
Semua tertutupi mega buatan manusia

Vikry,
Lembang,
13 Agustus 2015


Puisi Sajak Layung Tentang Rembulan
Oleh. Penyair Kecil

Tampak bermuka kau di masanya
dari lingkar yang menggapit tengah
semua mewarna, serupa kunang-kunang mengecap jendela
agungkan jiwa-jiwa melarikan sepadan darah merah

Selir-selir mengipaskan angin
di labuhan rembulan yang menatap dingin
sepada jalan memikul jaman
layung bersenda dalam cakrawala awan

Lingkar mengikis jauh perlahan
luput melihat dengan masa
menyingsing hingga benam waktu mengoyak pelarian jalan
memaku detak iringan akanan

Menyisir tepi dari hulu menyaksikan lelembut bermain gita swara
sampaikan nyanyian bernada lanta
kencang berlari tiada hari
layung pergi beriring tawa rembulan yang menikam
telunjuk hati

Jakarta 12 April 2015.

Demikianlah puisi wajah rembulan. Simak/baca juga puisi puisi yang lain di blog ini. Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.