Skip to main content

PUISI TITIK NOL

PUISI TITIK NOL
Puisi titik nol. Mencengkram peluh yang terkucur Bangkitkan suka yang telah terkubur Kembali ada titik nol aku menjadi hancur, berlumur doa, tangis, pasrah hati kutergolek ikhlas menanti-nanti secarik takdir Sang Adikodrati di samudra zikir sendu yang datang silih berganti.

Pragraf diatas salah satu penggalan bait dari dua puisi dikesempatan ini, adapun masing masing judul puisinya antara lain.
  1. Puisi titi
  2. Puisi titik nol
Bagaimana cerita dan makna di balik rangkaian bait bait kedua puisi tersebut, untuk lebih jelasnya silahkan disimak saja puisinya berikut ini.

PUISI TITIK NOL

Hela napas yang bergemuruh muntahkan jenuh...
Denting jam menuntunku pada sebuah aktifitas penuh...
Melintasi tiap jalan yang terlihat kumuh...
Kembali pada titik nol aku terbunuh...

Mungkin ini bukanlah sebuah akhir waktu...
Ini hanyalah permulaan yang baru...
Tak perduli terjalnya langkah tanpa mengadu...
Kembali pada titik nol aku seperti yang dulu...

Dunia menerkam, memangsa dan berliur...
Mencengkram peluh yang terkucur...
Bangkitkan suka yang telah terkubur...
Kembali ada titik nol aku menjadi hancur...


PUISI TITI
Karya: Samanta

Di ujung senja merah hati
rembulan telah lama mati
langit kelam meraung tiada henti
guruh terus berdehem mewanti-wanti
sang bayu dan dedaunan pun terisak-isak empati
tak pernah lagi membisikkan kinanti-kinanti

Di pembaringan kronis berlumur doa, tangis, pasrah hati
kutergolek ikhlas menanti-nanti
secarik takdir Sang Adikodrati
di samudra zikir sendu yang datang silih berganti
seakan-akan kali ini Dia tak lagi memberi amnesti

Namun di sisi ranjang, tetap hadir sepasang mata indah penuh bakti
sendu, sembab, tapi kian tajam memancar sugesti
menebar kasih sewangi taman melati
o, tatap melankolis yang membuatku enggan mati

Gusti...
tolong beri aku waktu walau hanya hingga fajar nanti
kuingin merangkai sebait puisi sebagai prasasti
bagi seraut wajah tulus pemilik cinta sejati
tegar, ikhlas mengawal di getirnya sempadan hayati

Akan tetapi, jika penalti-Mu telah pasti
mustahil kuberantipati
kurela terbaring abadi di dalam peti
menuju jembatan rahmat-Mu yang mesti kutiti

Bumi Allah, 30 Nopember 2016
--------

Demikianlah puisi titik nol. Simak/baca juga puisi puisi yang lain di blog ini. Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat,  Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya dengan label aneka puisi. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.