Skip to main content
Puisi Padamu Negeri | Puisi Kritikan Pemerintah

Puisi Padamu Negeri | Puisi Kritikan Pemerintah

Puisi Kritikan Pemerintah, Puisi padamu negeripuisi puisi dibawa ini bercerita tentang keadaan dalam Negeri, suka, duka, pahit, manis, keadaan negeri saat ini, ditulis mereka para pemerhati negeri  dalam bentuk puisi, dengan krakter masing masing penulisnya.
Puisi Padamu Negeri

Puisi padamu negeri, isi dari puisi untuk negeri ini bermacam puisi untuk indonesia didalamnya yang menceritakan tentang kejadi yang terjadi dalam negeri indonesiam, seperti tentang korupsi, tentang musibah yang terjadi, tentang kritik pemerintah kritik sosial dan berbagai macam hal yang terjadi di indonesia hadir dalam puisi padamu egeri, jadi dapat di katak baj puisi ini puisi untuk negeri, tau pusi indonesia.

Kumpulan puisi tentang kejadian yang terjadi di negeri tercinta indonesia | Puisi Kritikan Pemerintah

Penggalan bait yang kita ambil pada puisi padamu negeri kali ini. Rakyat papa yang makin jauh dari karunia, jika koruptor masih leluasa, hidup kalian pasti lebih pahit dari peria. Ada sepuluh judul puisi yang menceritakan tentang keadaan negeri atau bangsa indonesia. Bukan negeri diatas awan yah.., negeri mimpi. tapi kenyataan yang menginpirasi para penulisnya. Judul- judulnya antara lain:
  1. Puisi Terbuang,
  2. Sajak Untukmu dari orang pinggiran, 
  3. Puisi Malaria
  4. Puisi Negeriku
  5. Puisi Jeritan hati nurani
  6. Puisi Keropos
  7. Puisi Anak negeri 
  8. Puisi Politisi Blusakan Banjir
  9. Puisi Garuda pancasila
  10. Puisi Indonesia
Dari judul padamu negeri berarti puisinya di persembahkan untuk negeri tercinta, dari serentetan peristiwa dan kejadian, bahkan puisinya ada mengkritik tentang pemerintahan, selengkapnya yuk kita simak saja puisinya berikut ini.

PUISI TERBUANG

Semalam ku tak dapat memejamkan mata
Betapa tidak, rumah kami di bantaran kali
Yang selalu menaungi kami dari hujan dan teriknya matahari
Siang ini akan diratakan dengan dalih rehabilitasi

Pagi ini seperti biasa kuberbenah diri seusai subuh
Tampak si bungsu masih terlena di atas kasur kartonnya yang lusuh
Sedang si sulung sibuk mandi dengan air yang terlihat keruh
Sementara istriku tercinta sedang sibuk bercengkerama dengan aroma dan kepulan asap dari nasi raskin yang bercampur kutu

Oh ibu pertiwi
Tak dapat kubayangkan bila kemesraan ini akan berubah jadi isak tangis memilukan
Tak dapat kugʌmbarkan remuk dan hancurnya hati istri dan anak-anakku yang mengharukan

Oh ibu pertiwi
Bumi yang kami pijak dan langit yang kami junjung ini
Apakah sudah tiada lagi tempat untuk kami bernaung diri
Apakah kami juga seonggok sampah yang harus dibersihkan dan disterilisasi
Demi indah dan asrinya kota yang angkuh berdiri

Duhai ibu pertiwi
Aku bersimpuh dikakimu
Mengharap belas kasihmu
Tiadakah tergerak hatimu?
Melihat anak-anakmu yang tersisihkan dari hangat pelukmu

Di bantaran kali
Sejengkal tanah yang dulu pernah kubela
Dari tangan-tangan rakus sang penjajah yang merajalela
Tampak gedung-gedung yang menjulang tinggi mengejek dan tertawa
Mengencingi kami di bawah angkuh sᥱlangkangannya
Meludahi kami dari ketinggiannya

Adhy Saputra, 3 Februari 2015, pukul 23.00


SAJAK UNTUKMU DARI ORANG PINGGIRAN
Oleh : Pena Usang Sang Penyair

Pena
Hai tuan!
Bacalah tiap bait aksaraku
Ejalah abjad-abjad liar nan tertata
Maknai tiap-tiap barisnya

Tuan ... ini tentang jiwa yang kaubodohi
Kaupecundangi kami dengan slogan palsu
Manis bujuk rayu kami teguk disetiap pesta topeng demokrasi
Hingga kami terhipnotis kepiawaianmu

Ini sajak untukmu tuan!
Dari oarng-orang pinggiran yang kaudustai
Sisa tawamu tinggalkan luka
Hingga kini perihnya mendarah daging
Luka darimu tuan sipenebar dusta

Tuan ... kau kini bertahta di istana
Duduk manis disinggasana
Terfikirkah olehmu, tuan?
Atau ingatkah celotehmu tentang keadilan

Sepertinya tidak,
Kaulebih asik menghitung laba
Hingga jerit dan rintihan hati kami tak terdengar

"Ini Sajak Untukmu Tuan, Dari kami Orang Pinggiran"

akarta : 03-02-2015

PUISI MALARIA
Karya: Sang Mahadewa Cinta

Mampuslah kalian, rakyat Indonesia...
seantero nusantaramu segera dikepung ledakan nyamuk malaria
yang akan rakus menyeruput darahmu sampai kalian mati sia-sia
kini kian banyak faktor penyebab kalian gampang meninggal dunia
dan kalian semua pun makin jauh saja dari pintu gerbang bahagia

Jangan bermimpi ‘tuk dibela para wakilmu di gedung parlementaria
yang hanya ingat kalian saat Pemilu, setelah itu mereka kena amnesia
bromocorah kawakan yang suka mengaku dan berpura-pura jadi ksatria
ngga usah berkhayal bakal ditolong gustimu yang dulu suka berjanji setia
padahal ternyata pentadbirannya lebih busuk ketimbang bunga raflesia

Berharap penguasa merancang program anti nyamuk, itu hanyalah utopia
disana akan makin merajalela korupsi yang nantinya kian sukar dirazia
karena kaum penguasa makin gigih membuat KPK anemia dan astenia
memobilisasi para predator nyamuk juga bukanlah ide yang cendekia
karena cicak segera sekarat akibat perselingkuhan banteng dan buaya

Jadi, modarlah kalian, rakyat papa yang makin jauh dari karunia...
jika koruptor masih leluasa, hidup kalian pasti lebih pahit dari peria
namun, walau nyamuk-nyamuk menggerogotimu, tetaplah berhati mulia
janganlah pernah menyesal memilih mantan tukang kayu terbeken di dunia
‘tuk mengatur negerimu yang seluruh hulu-hilirnya penuh dibanjiri mafia

Bumi Allah, 4 Februari 2015


Puisi Negeriku

Negeriku negeri wisata
Tempat siapa memanjakan mata
Ketika kami berkeluh panas
Ketika mereka berjemur bebas

Negeriku negeri indah
Bersalut panorama bercitra megah
Bertawa kata di ruang mewah yang kami cipta
Tuan dan nyonya bersuka cita

Negeriku negeri indah
Cukong dan Pialang beradu modal
Keringat kami di bayar rendah
Meskipun bukan di zaman feodal..

Negeri indah ku negeri impian ..
Di dalam perkamen mau pun angan..
Lanscape berbaris di kaki tuan
Tergelak nyonya hilangkan beban..

3_Nov2014


Puisi Jeritan Hati Nurani

Diseluruh penjuru Negri
Aneka wajah menjelma
Dengan jeritan hati nurani yang beraneka warna
Ada jeritan si kaya yang mengelu-elukan kekuasaan dan hartanya
ada jeritan simiskin yang menjerit meminta keadilan dan belas kasih
Sementara…….
Kau? Yang duduk termenung dijeruji besi orang buangan
Merintih…….
Meratapi……
Menangisi keadaan negrimu yang porak poranda
Kau? Hanya bisa menjerit lewat bahasa lisanmu
Sementara……
Jasadmu terkunci rantai keadilan
yang tak pernah kau buat
sungguh…..

Dirimu mengalami kepiluan...


PUISI KEROPOS
Oleh :siamir marulafau

kadang hidup terasa menggelepur
tempat teduh tak menentu
rinai hujan pun menetes ke ubun ubun
badan terasa sejuk

sinar pun redup sementara mentari tak terbit di ufuk timur
enggan memancarkan cahaya terang benderang
di kala insan retak bagaikan piring pecah berbelah
di saat konflik memanas dari sabang sampai merauke

negaraku pun tak berhaluan
sepertinya diterpa badai berkepanjangan
kemelut di atas kapal membuat nakhoda terkesima
mau ke mana bahtera diarahkan?

tiang layarku keropos ditelan rayap bersayap
lajunya menabrak karang tak berpilar
suaraku pun terputus
otak jadi beku
terdiam, terdiam, terdiam

sm/18/02/2015@siamir


PUISI ANAK NEGERI

tuan, kami ini domba-domba
yang tak pernah tuan gembalakan
menyusur gedung-gedung tinggi
mengorek plastik bekas
agar perut kami bias

sekumpulan domba
tanpa ratap iba
senjʌta kami doa
dan perasan keringat saja

negeriku, kandangku
tapi lumut-lumut dan jamur beracun
memakan pagar kami
menguras semangat kami

kami hanya takut
bila saja kami makan
lalu kami terkontaminasi
mengejang lalu terkapar
sendiri

ya ...
hanya sendiri, tuan!
sebab di balik meja
asyik tuan main play station saja
menyetting kami suka-suka
dan andai kami kalah
tuan bayar hanya dengan ongkos saja

ongkos pemakaman kami
dan kain kafan
tanda tuan
kasihan

tragis
anak-anak domba
berpuisi dengan anak negeri
yang satunya makan rumput
yang satunya asyiek ona ni

tragis lagi-lagi tragis
bengis!

fredi fa
jkt 01/03/15
2106.


POLITISI BLUSUKAN BANJIR
Wahyu setyo putro,Tuban jawa timur

Disaat ada bencana banjir
Engkau slalu hadir
Disaat kami membutuhkanmu
Engkau telah ada disitu

Kami tak perlu memanggilmu
Karna Engkau telah setia menunggu
Ketika ada wartawan
Engkau bergaya ala pahlawan
Ketika ada reporter
Engkau bergaya ala manusia super

Engkaulah pimpinan kami
Engkaulah pilihan kami
Tapi mengapa engkau begini...
Percuma engkau menolong kami
Hanya demi ingin terlihat di TV

Engkau ini politisi atau selebriti?
Yang setiap hari slalu ingin nongol di tv
Apakah engkau ini calon tikus-tikus berdasi?
Jika memang itu benar
Maka kami salah memilihmu
Engkau tak punya malu

Pantas bangsamu ini hancur
Karena pemimpinya pada ngawur
Pantas banyak orang kelaparan
Karna pemimpinya Cuma cari ketenaran

Kapan bangsa ini mau maju
Jika pemimpinya terus terbawa hʌwa nʌfsu
Kita ini manusia penuh dosa
Yang tak pernah ada habisnya
Semoga mereka sadar dan taubat
Agar bangsa ini menjadi hebat


Puisi Garuda Pancasila

Kibaran sayapmu sampai ke ujung negeri.
Paruhmu mematuk sifat-sifat bangsa ini.
Apakah engkau bisa terbang di angkasa.
Tetapi itu mustahil karna penyebabnya kami anak bangsa indonesia.

Engkau sekarang hanyalah sebuah monumen
Yg mengeras seperti semen.
Sebagian dari kami menggapmu cemen.
Tapi itu Kesalahan besar bagi kami semua.

Dahulu kau sangat dipuja.
Sekarang kamu malah dihina.
Bahkan ada yg menggapmu tiada.
Dari tanar air bangsa indonesia.


PUISI INDONESIA

Apakah kamu tahu negara ini
Apakah kamu tinggal di negara ini
Kalau kamu tinggal di negara ini
Apa yang kamu lakukan
Memperk0sanya atau menjaganya

Negara besar dengan kekayaan alamnya
Negara besar dengan jumlah penduduknya

Tapi kamu tahu tidak
Bagaimana keadaan bangsa ini sekarang
Di isi oleh kumpulan bedᥱbah
Yang memperk0sa ibu pertiwi

Kekayaan alamnya dirampas asing
Berpenduduk terbanyak tapi
Hanya egoisme dan individu yang ada
Tak memikirkan bangsa ini
Yang kian tahun semakin tak menentu

Negara muslim terbesar di dunia
Tapi imannya tipis
Telah hancur mental dan percaya diri

Apakaj pemimpin bergerak dengan hati nurani
Ataukah untuk kepentinga

Apa yang terjadi dengan bangsa ini
Dimanakah pemuda-pemudi
Yang menjadi kunci masa depan bangsa

Ibu pertiwi melarat menuju pusaran hitam
Sinar mentari terpecah.
Adakah asa  untuk bangkit.

G w a
Piyungan 190315 20:51


Demikianlah Puisi padamu negeri | Puisi Kritikan Pemerintah, baca juga Puisi padamu negeri yang lain Atau Simak/baca puisi puisi yang lain di blog ini. Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.
Supaya mudah mengakses Puisi Dan Kata Bijak di smartphone, klik ikon 3 titikdi browser Chrome kemudian pilih "Tambahkan ke layar utama". Selanjutnya bisa mengakses Puisi Dan Kata Bijak dari layar utama smartphone dengan klik ikon Puisi Dan Kata Bijak.
Buka Komentar
Tutup Komentar