Skip to main content
Kumpulan Puisi Sufi Jalaluddin Rumi | Syair Tentang Agama Dan Kehidupan

Kumpulan Puisi Sufi Jalaluddin Rumi | Syair Tentang Agama Dan Kehidupan

Kumpulan puisi sufi Jalaludin Rumi dan syair tentang agama dan kehidupan. Setelah kata kata Jalaludin Rumi dalam bentuk puisi cinta dan sajak tasawuf, maka kali ini adalah syair sufi tentang kehidupan dan kata bijak Jalaludin Rumi tentang agama dalam bentuk puisi sufi.

Jadi apa itu sufi, berdasarkan wikipedia pengertian sufi adalah penyebutan untuk orang-orang yang mendalami sufisme atau ilmu tasawwuf, tentang kata sufi ini merupakan tema puisi tentang agama dan kehidupan karya Jalaludin Rumi diterbitkan blog puisi dan kata bijak untuk kali ini.

Dan berikut ini adalah daftar judul kumpulan puisi sufi Jalaludin Rumi dan puisi Jalaludin Rumi tentang agama dan kehidupan dipublikasikan puisibijak.com diantaraanya:

Contents

Sekitar 16 judul puisi karya Jalaludin Rumi yang berisi puisi nasehat dan puisi agama Islam dan lainnya.

Kumpulan Puisi Sufi Jalaluddin Rumi | Syair Tentang Agama Dan Kehidupan

Bagaimana kata bijak jalaludin rumi tentang agama dan cerita syair sufi tentang kehidupan yang dipublikasikan blog puisi dan kata bijak.

Apakah sama halnya dengan Quotes Jalaluddin Rumi dan tafsirnya, untuk lebih jelasnya disimak saja berikut ini nasehat syekh jalaludin rumi dalam deretan bait kumpulan puisi sufi Jalaludin Rumi dan puisi tentang agama dan kehidupan dibawah ini. Puisi Sufi Jalaluddin Rumi

#1. KEMBALI PADA TUHAN

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang
Tuhan. Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi Sembilan puluh Sembilan
saja. Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayuhlah datang, dan datanglah lagi!
Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”


#2. Puisi Sufi Jalaludin Rumi

Bagian kedua kumpulan puisi dan syair Jalaluddin Rumi adalah adalah tema puisi sufi, yang berisi nasehat syekh jalaludin rumi dalam bentuk puisi, dan untuk lebih jelasnya disimak saja berikut ini.


SUFI MENGENALNYA

Karena hanya Kearifan satu-satunya kendaraan Muslim sejati, ia tahu pasti dari siapa saja ia harus mendengar tentang Kearifan,

Dan ketika ia mengetahui dirinya berhadapan muka dengannya, betapa akan timbul keraguan? Betapa mungkin akan keliru?

Jika kepada orang yang haus kau berkata,
“Ini segelas air, minumlah!”

Akankah orang itu menjawab,
“Ah, itu cuma kata-kata: biarkan aku sendirian, o Pembohong, pergilah kau!”

Atau katakanlah ada seorang ibu berteriak kepada bayinya, “Dengar, anakku, aku ini ibumu!”

Adakah si bayi akan berkata,
“Tunjukkan dulu buktinya, supaya aku nikmat menetek susvmu.”

Jika hati seseorang telah memiliki penglihatan batin, wajah dan suara Rasulullah benar-benar mukjizat baginya.

Jika nabi berseru dari luar hatinya, jiwa orang akan luluh memuji di dalam batinnya,
Sebab tak pernah di dunia ini telinga jiwa akan mendengar seruan yang sama seperti seruan nabi.

Seruan yang amat mempesona itu terdengar oleh jiwa yang terbuang—ia adalah seruan Tuhan,
“Lihat, Aku dekat.”


SUFI SEJATI

Apa yang membuat orang jadi sufi? Hati yang bersih.
Bukan baju yang kumal dan nafsu yang liar.
Mereka yang terikat pada dunia telah memakai namanya.
Namun segala ampas dapat ia saring sari murninya;

Sufi sejati mudah dalam kesulitan, riang dalam bencana.
Hantu-hantu pelindung yang menjaga gapura istana
Keindahan.

Dan mengurung tempat yang tenteram itu dengan pentungan menakutkan
Akan memberi jalan kepadanya, dan tanpa kenal takut ia pun lewat.
Seraya memperlihatkan panah sang Raja, masuk ke dalam.


TIDUR TERHADAP DUNIA

Setiap malam Kau bebaskan ruh kami dari jerat tubuh
dan Kau hapus seluruh kenangan dari ingatan.
Setiap malam ruh kami bebas dari sangkar ini,
selesailah sudah segala pertemuan, bincang-bincang dan kisah.

Di malam hari para tahanan melupakan penjaranya, dimalam hari para pembesar pun melupakan kekuasaannya.

Tiada duka, pertimbangan untung maupun rugi, gagasan orang ini ataupun orang lain.
Demikianlah keadaan orang Sufi, sekalipun dia tak lagi tidur: Tuhan berfirman, “(Kau tentu mengira mereka itu bangun) padahal mereka itu tidur.”

Dia tertidur, siang dan malam, terhadap urusan-urusan dunia ini, bagai sebuah pena di tangan Tuhan.
Tuhan telah memperlihatkan sebagian keadaanya, sedangkan orang yang kasar pun oleh tidur dapat terbuai:

Ruh mereka masuk ke Hutan Belantara yang kata tak
sanggup mengucap, kata-kata, jiwa dan tubuh mereka
istirahat.

Hingga dengan sebuah siulan Kau panggil mereka kembali
ke jeratnya, membawa mereka kembali ke keadilan dan
pengadilan.

Di saat fajar, seperti Israfil, Dia memanggil mereka
kembali dari Sana ke dunia rupa.

Ruh-ruh yang tak berbentuk Dia tawan sekali lagi dan
menjadikan setiap tubuh sarat (dengan amal baik dan
buruk).


KEBENARAN DI DALAM DIRI KITA

Ada taman indah, penuh pohon yang lebat
Anggur dan rumput menghijau dan di situ duduklah seorang sufi, memejamkan mata.
Kepala tunduk, tenggelam dalam tafakur

Seseorang bertanya,
“Hai, mengapa tak kaulihatTanda-tanda Yang Maha Pengasih di sekitarmu yang diperintahkan oleh-Nya agar direnungi?”

Sufi menjawab,
“Tanda-tanda-Nya dalam diriku telah membentangkan dirinya, yang di luar hanyalah lambang dari Tanda-tanda.”

Apa makna keindahan di dunia ini?
Bagai pantulan dahan bergoyang di air, ia adalah bayang-bayang
Taman Kekal yang membentang dalam kalbu Insan Kamil yang tak pernah layu


#3. Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Agama

Selanjutnya adalah kata bijak jalaludin rumi tentang agama dalam bentuk puisi, Bagaimana kata kata puisi jalaluddin rumi yang dipublikasikan blog puisi dan kata bijak, untuk lebih jelasnya disimak saja dibawah ini.


HATI BERSIH MELIHAT TUHAN

Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat dalam persemayaman hatinya.
Dan penglihatan itu bergantung pada seberapakah ia menggosok hati tersebut.

Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap,
maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat semakin nyata baginya.


DUNIA WAKTU

Setiap saat engkau mati dan kembali. “Dunia ini hanya sekejab,” sabda Nabi.
Pikiran kita adalah anak panah yang dibidikkan oleh-Nya:
Bagaimana ia akan tetap tinggal di udara? Ia akan kembali lagi kepada Tuhan.
Setiap saat dunia diperbaharui kembali, dan kita tidak menyadari perubahannya yang tak pernah berhenti.

Hidup pun senantiasa mengalir baru, meski dalam tubuh tampak kemiripan bentuk yang berkesinambungan.
Karena cepatnya ia tampak berkesinambungan, bagai kembang api yang engkau putar dengan tangan.

Waktu dan masa adalah gejala yang dihasilkan oleh cepatnya Tindakan Tuhan,
Bagaikan punting berapi yang cekatan diputar menimbulkan ilusi lingkaran api panjang.


PENDAKIAN RUHANI

Apabila engkau ikut serta dalam barisan mereka yang mengadakan Pendakian,
ketiadaan akan membawamu keatas bagaikan Buraq.

Itu bukanlah seperti naiknya makhluk hidup ke bulan;
bukan, melainkan seperti naiknya pohon tebu ke gula.

Itu bukanlah seperti naiknya asap ke langit; bukan itu,
melainkan seperti naiknya embrio ke rasionalitas.


#4. Puisi Jalaludin Rumi Tentang Kehidupan Dan Agama

Dan bagaian keempat adalah puisi jalaludin rumi tentang kehidupan, bagaimana kata kata nasehat kehidupan syekh jalaludin rumi, salam bait puisi kehidupan yang diterbitkan blog puisi dan kata bijak. untuk lebih jelasnya disimaks aja kata kata jalaludin rumi dibawah ini.


ABADINYA KEHIDUPAN

Seluruh kemampuan manusia tidaklah permanen:
seluruhnya akan musnah pada hari Kebangkitan.
Namun cahaya kesadaran dan seluruh ruh nenek
moyang kita bukanlah sirna semuanya, laksana rerumputan.

Mereka yang telah meninggal dunia bukanlah tidak-ada:
mereka terendam dalam Sifat-sifat Ilahi.
Seluruh sifatnya terhisap ke dalam Sifat-sifat Ilahi, sama
seperti hilangnya bintang-bintang oleh hadirnya matahari.

Jika engkau menanyakan sumber dari Al-Qur’an, bacalah ayat, “Setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi ke Hadapan Kami (muhdarun).

Orang yang disebut dengan kata muhdarun bukanlah tidak-ada.
Renungkanlah, sehingga engkau dapat memperoleh pengetahuan yang pasti tentang abadinya kehidupan ruh.

Ruh yang terhalang dari kehidupan abadi berada dalam kesengsaraan; ruh yang senantiasa bersatu dengan
Tuhan terbebas dari berbagai rintangan.


MUSIK KENANGAN

Dikisahkan, seruling dan kecapi yang menawan telinga kita
Nadanya berasal dari perputaran angkasa;
Namun Iman, yang melampaui lompatan spekulasi,
Dapat mengerti merdunya setiap suara yang tak serasi.

Kami, yang bagian dari Adam, bersamanya mendengarkan
Nyanyian para Malaikat dan Muqarrabin.
Meski tumpul dan menyedihkan, ingatan kami
Masih menyimpan gema alunan nada surgawi.

Oh, musik adalah hidangan bagi para pencinta,
Musik ‘kan melambungkan jiwa ke dunia Sana.
Bara berpijar, api abadi pun kian berkobar:
Sembari menikmati dengan suka-ria kami pun dengar.


MUSIK KENANGAN II

Nada seruling dan puput yang menawan telinga.
Katakan dari putaran angkasa biru asalnya.
Tapi iman yang mengatas rantai angan dan cita.
Tahu si pembuat suara sumbang dan merdu.

Kami adalah bagian dari Adam, bersamanya kami dengar.
Lagu para malaikat dan serafim.
Kenangan kami, walau tolol dan menyedihkan.
Menambat alunan musik biola surga.

O musik adalah daging semua pencinta.
Musik menggetarlambungkan jiwa ke langit angkasa.
Bara berpijar, api abadi tambah berkobar.
Kami dengar senantiasa dan hidup dalam ria dan damai.


TAK TERLAHIRKAN

Jika ada yang mengatakan kepada benih di rahim, “Di luar sana ada sebuah dunia yang sangat tertib,
Sebuah bumi yang menyenangkan, luas-lebar, penuh kesenangan dan banyak makanan;
Gunung, lautan, lembah-lembah, taman-taman semerbak dan sawah-ladang ada di sana;
Langitnya begitu tinggi dan terang, sinar matahari, cahaya bulan dan bintang tak terkira;

Keajaibannya tak terlukiskan: mengapa kautinggal, mereguk darah, di dalam periuk kotor dan penuh kesengsaraan ini?
Benih, sebagaimana benih, tentu akan berpaling tak percaya; sebab orang buta tak punya angan-angan.

Begitulah di dunia ini, apabila orang alim menceritakan ada sebuah dunia yang tanpa semerbak dan warna,
Tak seorang di antara sekalian orang bodoh mau mendengar: nafsu angkara adalah rintangan paling kukuh dan kuat.

Begitupun dengan hasrat benih akan darah yang telah mengasuhnya di tempat hina,
Telah mencegahnya melihat dunia, sehingga sejak itu makanannya tak ada selain darah.


SEBUAH TIDUR DAN SEBUAH KEALPAAN

Seseorang yang telah bertahun-tahun hidup di suatu kota, segera setelah ia tertidur.
Melihat kota lain yang penuh kebaikan dan keburukan, dan kotanya sendiri melayang dari pikirannya.
Tak pernah ia berkata pada dirinya, “Ini kota baru: aku seorang asing di sini.”

Sebaliknya, ia membayangkan sering tinggal di kota itu, dilahirkan dan dibesarkan di situ.
Herankah kita jika jiwa tak ingat lagi akan kampung halamannya dulu dan tanah kelahirabnnya.
Sejak ia terbungkus dalam tidur sesaat di dunia ini, seperti bintang diselimuti awan?

Lebih-lebih ketika ia menjejakkan kaki di berbagai kota dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu.


#5. Puisi Jalaludin Rumi Tentang Kerinduan

Selanjutnya adalah puisi jalaludin rumi tentang rindu, dan untuk lebih jelansya disimak saja puisi jalaludin rumi tentang kerinduan berikut ini.


LAGU SERULING

Dengar alunan pilu seruling bambu.
Sayu sendu menusuk kalbu.
Sejak tercerai ia dari batangnya induk yang rimbun.
Dan sesak dipenuhi cinta dan kepiluan.

Walau dekat tempatnya rahasia laguku ini.
Tak seorang tahu serta mendengar.
O kurindu kawan yang mengerti tanda ini.
Dan mencampur rohnya dengan rohku.

Api cintalah yang membakar diriku.
Anggur cintalah yang memberiku cita mengawan.
Inginkah kautahu bagaimana pecinta luka?
Dengar, dengar alunan seruling bambu.


#6. Puisi Jalaludin Rumi Tentang Kematian

Dan bagian kenam kumpulan syair dan puisi agama Jalaluddin rumi adalahh puisi jalaludin rumi tentang kematian bagaimana cerita syair kematian tersebut, selengkapnya disimak saja berikut ini.


KEMATIAN

Muhammad, pangeran umat manusia, betul-betul mengatakan bahwa tak seorang pun yang meninggalkan dunia ini

Merasa sedih dan menyesal karena telah mati; namun begitu ia sangat menyesal telah kehilangankesempatan,

Seraya berkata pada dirinya,
“Mengapa tak kujadikan mati sebagai tujuanku—mati sebagai kedai segala keberuntungan dan kekayaan, Dan mengapa tak kukendalikan hidupku yang tertipu oleh bayang-bayang yang mudah lenyap dalam sekejap?”

Sedih memikirkan mati tak ada hubungannya dengan ajal, hal itu disebabkan karena mereka berada dalam bentuk-bentuk keberadaan yang menggejala.

Dan tak pernah merasa bahwa semua buih ini beriak dan hidup karena Sang Lautan.
Jika Lautan telah melempar buih ke pantai, datangilah kubur dan lihat mereka!

Tanyakan pada mereka,
 “Di mana arus gelombangmu sekarang?”

Dan dengar jawab bisu mereka,
“Tanyakan pada Lautan, jangan kepada kami.”

Bagaimana buih dapat melayang tanpa ombak?
Bagaimana debu bisa bangkit ke pusarannya tanpa angin?

Ketika kausaksikan debu melayang, kausaksikan pula
Angin; ketika kausaksikan buih, kausaksikan pula
Lautan Tenaga Penciptaan.

Mari saksikan, penglihatan batinlah satu-satunya yang paling berguna dalam dirimu: selebihnya adalah keping-keping gemuk dan daging, tulang serta otot.

Leburkan seluruh tubuhmu ke dalam Penglihatan Batin: jadilah penglihatan, jadilah penglihatan!
Seseorang melihat kearifan tak lain sebagai sebuah kebun atau dua buah jalan; yang lain menyelidiki hidup yang sesat dan alam kerohaniaan dan menyaksikan Wajah Raja mereka.


#7. IMAN DAN AMAL

Tuhan telah memasang tangga di hadapan kita: kita harus mendakinya, setahap demi setahap.
Engkau memiliki kaki: mengapa dibiarkan lumpuh?

Engkau punya tangan: mengapa jari-jarinya tak kau pergunakan untuk menggenggam?
Kebebasan-kehendak adalah upaya untuk bersyukur kepada Tuhan atas Karunia-Nya; kepasrahanmu berarti mencampakkan Karunia itu.

Bersyukur karena mampu bertindak bebas akan menambah kemampuanmu bersyukur kepada-Nya.
Kaum Jabariyah merenggut apa yang Tuhan telah anugerahkan.

Para perampok itu berada di tengah perjalanan: jangan tidur sampai engkau melihat gapura dan pintu gerbang!

Apabila engkau bertawakkal kepada Tuhan, bertawakallah kepada-Nya dengan amalmu!
Sebarkanlah benih, kemudian serahkanlah kepada Yang Maha Kuasa!


Demikianlah puisi mistik jalaludin rumi dalam kumpulan puisi sufi dan puisi tentang agama dan kehidupan. baca juga puisi agama Islam lainnya di halaman blog puisi dan kata bijak, semoga puisi dan syair sufi tentang kehidupan serta nasehat syekh jalaludin rumi yang diterbitkan puisibijak.com bermanfaat.

Supaya mudah mengakses Puisi Dan Kata Bijak di smartphone, klik ikon 3 titikdi browser Chrome kemudian pilih "Tambahkan ke layar utama". Selanjutnya bisa mengakses Puisi Dan Kata Bijak dari layar utama smartphone dengan klik ikon Puisi Dan Kata Bijak.
Buka Komentar
Tutup Komentar