# Puisi Bencana Alam
# Puisi Bencana Alam

# Puisi Bencana Alam

Puisi bencana Alam. Berbicara tentang bencana alam Tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, dan gempa bumi dan bencana alam lainnya.

Semua ini merupakan sebuah tragedi atau bencana alam yang tak dapat di tolak dan sering mendatangkan kesedihan, tangis, kerugian serta kehilangan harta benda.

Walaupun bencana alam itu tidak disengaja dan tidak direncanakan, akan tetapi terkadang semua itu terjadi akibat dari perbuatan kita sendiri sebagai manusia yang kurang berterima kasih kepada Alam.

Jadi apa itu bencana alam, bencana alam adalah serangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan yang disebabkan berbagai faktor. Baik oleh faktor alam maupun faktor non alam seperti faktor manusia itu sendiri.

Bencana alam pada umumnya mengakibatkan timbulnya korban jiwa kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis dan lain sebagainya.

Dan puisi yang dipublikasikan puisi dan kata bijak kali ini adalah puisi bencana alam atau puisi bertema tentang bencan alam, yang tercipta dari serangkaian peristiwa yang terjadi karena Alam.

Dan adapun masing masing judul puisi alam dengan tema puisi bencana alam diterbitkan puisibijak.com antara lain:

Empat contoh puisi tentang alam, dapat menjadi referensi untuk menulis puisi alam bagi pembaca yang menyukai puisi tentang alam atau ingin menulis puisi bencana alam.


Puisi Bencana Alam

Puisi bencana alam adalah rangkaian kata kata indah tentang alam, dipadukan dengan dengan kata kata bencana sehingga menyajikan bait bait puisi bencana alam.

Nah bagaimana cerita puisi alam dalam bait bait puisi bencana alam yang dipublikasikan puisi dan kata bijak, untuk lebih jelasnya silahkan disimak saja puisinya berikut ini.


DUKA DI TANAH JAWA
Oleh. Dewy Rose

Terlalu sunyi ketika lelap masih mengintai
Di antara alunan desah mimpi yang kian melenakan
Ada deru alam yang tengah memburu
Berpacu dengan waktu yang terasa kian bijak

Tuhan, sesaat terdengar teriakan mengingat AsmaMU
Allahu Akbar! Allahu akbar! Allahu Akbar!
Jerit tangis menggema!
Ibu memeluk buah hati tercinta
Bapak melindungi keluarga tersayang
Semua! Semua! Semuanya!
Dalam keadaan gulita malam itu!

Alam bergerak dari lapisan tanah terdalam
Menghentak permukaannya, mengguncang bumi
Di belahan Pulau Jawa
Bergetar hebat pergeseran tanah dari lempengnya
Dan langit pun bergemuruh, menumpahkan tangisnya

Tuhan, jika dosa ini berkekalan dari hamba-hambaMU
Deraan sesal kian menyesakkan bahkan terdengar sumbang
Saat nyawa tiada lagi di badan
Hanya linangan air mata penumpah sesal

Tuhan, jangan biarkan kami bergelimang dosa
Menanggung beban yang tiada henti
Saat gemuruh itu datang lagi nanti
Biarkan kami kembali dalam keadaan fitri
Kini duka di tanah Jawa
Menumpahkan rinai pada Ibu Pertiwi


ALAMKU KINI TAK RAMAH LAGI
Karya : Enny maryani. S

Semalam srigala melolong panjang menegadahi rembulan
Ternak melenguh resah di padang penggembalaan
Burung gagak berputar putar di atas dusun
Pagi ini badai datang berkunjung

Pepohonan luruh dari punggung gunung
Puting beliung bagai mata maut yang siap mencengkram
Atap rumah beterbangan
Teriakan panik dan jerit ketakutan memenuhi sudut dusun

Alam telah murka
Bencana pun melanda
Dusun menjadi porak poranda
Jasad-jasad terbujur tertimpa reruntuhan
Ratapan kehilangan terlontar dari mulut sang anak

Sang ibu
Sang ayah
Sang kakek
Sang nenek
Sang kekasih
Di atas bukit barisan sang penyair menyenandungkan lagu kesedihan
"Habis hutanku engkau tebangi"
"Habis sudah saudaraku pagi ini"

Baca juga: Puisi duka bencana Aceh


PUISI AKU DAN ALAM
Karya: Saffa Nafa

Semesta bermurung durja
Ketika langit mendung terbaca
pelangi enggan nampak di muka
Karena gerimis hadir menyapa

Bumi pun seketika menangis perih
Rintiknya deras bergemuruh lirih
Petir bersahutan buat pedih
Sembab awan kian bersedih

Turunlah hujan menghunjam raga
Sembunyikan tangis menjelaga
Sekeping luka tiada lagi tereja
Ketika alam tertimpa bencana

Aku terpaku membisu kata
Menyaksikan tangan liar merajarela
Apalah daya tiada mampu mencegahnya
Negeri tercinta kini berduka


MATA KEHIDUPAN BERSIMBAH AIR MATA
Karya Y. S. Sunaryo

Di rimbun, sejuk dan bening air ini; ada lambaian kehidupan dan kematian
Merupa hijau penahan kekeringan
Kesejukannya menjadi penawar panas bumi yang kian mengganas
Dan bening air sirami wajah bengis, hindari radang tenggorokan, jauhi kekeringan ladang dan perkotaan
Dan kau menjadi suci sesaat setelah bergumul sebagai suami istri

O, hutanku meringis kesakitan
Digergaji oleh deru industri pertambangan
Besi-besi kecongkakan dipancangkan
Jutaan kubik kayu diseret tanpa perhitungan
Luka-lukanya menanah menjadi luapan kemarahan

Ya, kita marah. Di hutan ada sejarah. Hutan dijarah. Hutan berdarah-darah. Hutan sisa-sisa sampah. Digauli dengan serakah. Tak pedulikan air mata menderas basah. Bukan semata ada kemiskinan tercipta. Tapi bencana tengah menganga

O, wahai para pecinta lingkungan
Jangan semata kau sesapi sejuk hawa kami. Injak-injak hijau dengan suka cita di tengah kering terus menggurita. Air itu, air ini, di bawah sana; telah merupa air mata dan darah. Pada yang berebut lahan, pada perang batas kedaulatan, pada jeritan kekeringan, pada perkelahian penghasilan, dan pada longsor yang merenggut kematian.

Jika kau inginkan rindang hutan lestari
Beri hutan pelukan peduli
Persolek hingga indah kanan kiri
Cegah para penggusur kami
Hingga kiamat tak bergemuruh di balik amarah ilalang

Mari berjuang kawan,
Hutan tak hanya disenggama dan dipandang
Melainkan diberdaya penuh keintiman

Ciamis, 2 September 2017

Baca juga: Puisi bait lara bencana


Demikianlah puisi bencana alam. Simak/baca juga puisi tentang alam yang lain di blog ini, semoga puisi tentang bencana alam diatas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa pada tema puisi selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

Advertisement

Baca juga:


Your Reactions:

Buka Komentar