Puisi Ibukota Membara | Puisi Kritik Sosial
Puisi Ibukota Membara | Puisi Kritik Sosial

Puisi Ibukota Membara | Puisi Kritik Sosial

Puisi ibukota membara. Ibukota biasa juga di eja Ibu kota, jadi pengertian Ibukota adalah adalah kota tempat kedudukan pusat pemerintahan suatu negara.

Ibu Kota Merupakan tempat dihimpun unsur administratif, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. definisi tersebut menjelaskan pengertian ibu kota untuk suatu negara.

Sedangkan kata membara jika merujuk ke kamus bahasa indonesia, membara artinya menjadi bara, berapai api (tentang semangat).

Jadi jika judul puisi ibukota membara dapat di artikan. hiruk pikuk kegiatan di pusat pemerintahan suatu negara sangat bersemangat.

Entah itu semangat untuk kemajuan suatu negara, atau semangat mengkritik pemerintahan atau bahkan semangat berpolitik agar negara kacau. Atau bisa saja dengan semangat berbuat kejahʌtan yang menguntung pribadi sang pelaku.

Mungkin begitulah kira ulasan tentang ibukota membara judul salah satu puisi salah satu dari tiga puisi kritik yang di publikasikan blog puisi dan kata bijak.

Dan berikut ini adalah daftar judul puisi kritik sosial bercerita tentang keadaan negeri, diterbitkan puisibijak.com antara lain:

  • Puisi Hitam Puitih
  • Dor Sajak Mati
  • Puisi Ibukota membara.

Ketiga puisi tersebut ditulis oleh Fredy namun terkadang juga menggunakan titimangsa nama anaknya bahkan tak jarang nama istrinya ada di titimangsa puisinya.


Kumpulan Puisi Kritik Sosial

Bagaimana kata kata kritikan dalam bait puisi tentang kritik yang di tulis oleh Fredy dan dipublikasikan puisi dan kata bijak.

Untuk lebih jelasnya tentang puisi kritikan disimak saja puisi-puisinya berikut ini.


PUISI IBUKOTA MEMBARA

Pada dadanya
Kulihat api menyala
Membakar fikir dan logika
Membungkus intrik politik yang memanglah drama

Lakon sastra
Begitu ku menyebutnya
Yang banyak bertopeng dewa
Menuruni kasta-kasta

Lalu di pojokan panggung itu
Penyair memantra serasa getir
Tiba-tiba jurus sastra beraroma anyir
Bercampur airmata dan darah rakyat terpinggir

Lalu orasi begitu dahsyatnya menderaku
Seperti hujan paku
Pada setʋbuh kaku
Lalu ditempel pada jidat mereka
Setelahnya diatasnamakan rakyat jelata
Demi sejahtera, untuk wajah lugu bayi di tᥱtek ibunya
Demi pertiwi yang kemarin sempat bersedih
Sebab ia telah kehilangan keperʌwan direngut senja

Api datang dalam perang
Siap menghadang
Membakar arang
Melepuhkan syair lawannya
Mengorbankan anak-anak domba

Dan penjahat sesungguhnya
Ada di balik layar
Memesan menu makan malam
Memenuhi hasrat lapar
Sebab pesanannya sudah terbayar

Jakarta membara
K0nflik diapi-api
Asap dikipasi
Sate menu nikmat sekali
Drama sastra politik masa kini
Resto doa-doa bʌngsat
Di jilʌt dan melumat

Dan aku dengan airmata ini
Mencoba mengguyur api
Mengguyur api sampai aku terbakar dan menjadi tumpukan panggang siap saji

Fredi F A
Jakarta, 090217


PUISI HITAM PUTIH

Warna dasar
Lembar semesta
Penyeimbang neraca
Agar roda melaju di sana

Pada pilah akal manusia
Pada airmata dan lukanya
Atau pada senyum gᥱnit membaca
Pun pada buta dari balik sinarnya

Ia bisa bermakna benderangnya siang
Ia dapat diartikan segelap gulita jiwa
Di lorong-lorong,
di perbukitan,
di gang-gang,
di jubah toga,
di pengusaha yang parlente,
di dasi wakil rakyat yang ningrat,
di kepala negara,
di wajah pertiwi dengan kepolosannya

Hitam putih berbicara
Hati dan laku terpantul kentara
Lalu sebelah kaki menjadi saksi
Langkah kita kemana lari

Bening Restya Ayu
Blitar, 030217


DOR! SAJAK MATI

Entah berapa proyektil
Yang membelah jantung ini
Hanya simbah darah di dada
Tenggelamkan bunyi pelatuk yang perkasa, dor!

Satu nyawa hilang
Mengganti nyawa yang dikenang
Gembong nʌrkoba membelah harian ibu kota
Ia mati
Mengganti jejak pecandʋnya
Yang kemarin bunuh diri
Pada lengan yang ditancap jarum sʋntik berisi mimpi sorga

Lalu sepertinya angin kembali berseru
Jadwal esok siaga satu
Korps penembak jitu
Mengasah proyᥱktil di gudang pelʋru
Lalu serentak teriak, bʋnuh!

Nyala lampu dan mikropon pers menanti
Siapa lagi kan mʌti
Airmatanya kering
Diganti senyum sungging

Fredi FA
Jakarta, 030217


Demikianlah puisi ibukota membara beserta puisi hitam putih dan lainnya.. Simak/baca juga puisi yang lain di blog ini, semoga puisi diatas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

Advertisement

Baca juga:


Your Reactions:

Buka Komentar