Skip to main content

Kumpulan Puisi Bumi

Kumpulan Puisi Bumi
Kumpulan puisi bumi. Bumi adalah planet ketiga dari matahari yang dikenal sebagai planet terpadat dan terbesar kelima dari delapan planet dalam Tata Surya. Bumi juga dikenal sebagai planet terbesar dari empat planet kebumian Tata Surya. Bumi yang kita diami ini terkadang juga disebut dengan dunia atau Planet Biru.

Akhir-akhir ini. seiring majunya teknologi, bumi ramai di perdebatkan di media sosial ada yang mengatakan bumi datar namun ada juga yang berpegang sesuai yang diajar ketika masih SD jika bumi itu bulat. namun timbul lagi satu pertanyaan, bumi bulat kenapa air tidak tumpah. jika bumi datar sampai dimana ujungnya.

Bumi dan alam semesta turut menangis ketika perdebatan terus terjadi, bukankah kita tahu sebagai orang yang beragama, bahwa bumi adalah ciptaan tuhan yang Maha Esa. Bumi bulat atau datar semua rahasia Tuhan.
Puisi Bumi

Kumpulan puisi tentang Bumi

Berkaitan dengan kata Bumi, di bawah ini ada enam kumpulan puisi bumi, atau puisi tentang bumi Adapun masing masing judul puisinya antara lain.
  • Puisi bumi basah pasrah
  • Puisi bumi bijak
  • Puisi saksi bumi
  • Puisi untukmu bumi
  • Puisi gonjang ganjing
Keenam puisi tersebut menceritakan tentang bumi. Begitu banyak keindahan yang di ciptkan Tuhan di muka Bumi ini, hingga kita dapat mengapresiakan keindahan yang ada didalamnya. maka dari itu bumi kita harus di pelihara, agar ter selamatkan bumi kita ini. Yuk kita simak saja puisinya berikut ini.


Puisi Bumi Basah Pasrah

air menari seiring irama gemuruh sang bayu
resapi semua dengan gundah
akan nyanyian luka penuh rindu

semua telah menghitam
tak kujumpa walau kelabu
rindu yg kian membiru
membuat diri bisu dan kaku

sang pujangga cinta
berbaiklah sedikit padaku
torehkan lukisan katamu
indahkan ruang nestapaku.

Wahai semua rasa bersatulah
penuhi hati dengan keindahan
usir segala resah
semua pasti akan indah..


PUISI SAKSI BUMI
Oleh : Pena Usang Sang Penyair

Bernyanyilah bulan, hibur bumiku yang tengah bersedih
Siang dan malam kudengar hanya tangisnya
Rintihan mengiris menyayat hati
Rasa tercabik isi dada

Tikus rakus mengerat rakyat hingga melarat
Kucing-kucing bertaring tak mau ambil pusing
Mendengkur seperti habis melacur
Dan tikuspun bebas meluncur

Hai, siapakah engkau di sudut sana?
Nampak seperti sedang menghitung laba
Apakah hasil curang dari menelanjangi bumi?
Atau laba menjual harga diri?

Sejenak aku terdiam dalam diam
Hati komat-kamit : Bagai mana nasib anak cucuku kelak, sedang bumi pertiwi carut-marut

Lalu, apa yang dapat kuperbuat?
Sementara aku hanya bisa berteriak dengan aksara
Ketika mata melihat bumi dilucuti

Bulan, bawa anakmu gemintang agar berkelip
Jangan sembunyi di balik bilik
Bernyanyilah tentang perih pertiwi
Gemakan suaramu, sampai menembus telinga istana sang dewa

Hai kau, kucing tengik! Bangunlah!
Tikus-tikus sedang megerat
Jangan biarkan bumi sekarat?

Jakarta : 17-03-2015


PUISI UNTUKMU BUMI

panas
seperti terbakar
ambisi dan keserakahan
menyalanyala barabara
menghanguskan
hijaumu, rindangmu, ilalangmu

kini yang kutemui
berjuta kurcaci tenggelam
dalam genangan
airmatanya deras, erosi memangkas tanah,
mencabut akar, menghanyutkan apa saja
pohon tumbang
iman melayang
kian tipis
kian miris

botak
kepala tuyul
menyembul keluar
mencuri dan merampok
perutmu bumiku
demi perut buncit
kumpulan demit
yang selalu memberi asa selangit

tapi nyatanya
langit menghitam
jarak pandang berganti dendam
saling menyalahkan
saling sikutsikutan
saling tusuk
dengan belati karatan

tak perawan
rambutnya tak lebat selayak bidadari
pertiwi ini hari tomboy sekali
entahlah
apa salah shampoo
atau terkena kanker ganas
melibas mahkota
meranggas

pertiwi tersedu disudutnya
dan tanganku tak mampu menggapainya
apalagi memeluknya
apalagi membelainya
tuk sekedar usap airmatanya
yang terlanjur basah
menyesakkan dada

pertiwi nanar menyapa indonesia
penuh kubangan batubara
penuh riuh janji semata
gemetarkan seluruh jiwa

sedang aku,
ingin berontak
tapi hanya dalam bisik sejenak
bersama cicak di dinding retak

oh ... bumiku
suburlah
sebelum kami
terpanggang di neraka
neraka dunia
kreasi tangantangan yang tak pernah mengenal
cinta

fredi fa
jkt. 220415
0854.


PUISI BUMI BIJAK

Waktu beraurora warna warna semak
Senja bermuara di ufuk barat menyibak
Pelangi pamerkan mewah lengkung mengayak

Bumi berpijak tempat sandaran henyak
Nyaman berlenggok tarian hari semenak
Sajak ibu baris pertiwi bertidung beliak

Nyaris paksa duri duri bertanduk onak
Pasir debu melansir bisu jejak
Parau suara sumbang melagu biak

Bumi bijak seolah tak kenal pasak
Tiang penopang tumbuh hidup layak
Derita riak basuh peluh dimata ibu, anak


PUISI BUMIKU MENANGIS

Mengucur deras darah pendosa membanjiri bumiku yang murka...
Antara timur dan barat bumiku menjadi dua...
Tak ada lagi cinta, cipta dan rasa...
Yang ada hanya merah menyala di ufuk timur penuh angkara...

Dentang perang terdengar seperti sebuah lagu cinta...
Menebas setiap kepala para syuhada...
Lalu mati dipangkuan iblis yang tertawa...

Bumiku tua bumiku renta...
Agama yang menjadi laknat dan laknat yang menjadi agama...
Hancur lebur menghujam cakrawala...
Hingga menangis berlumur darah duka tanpa logika...

(Kupersembahkan untuk perdamaian...)


Puiis Bumi Gonjang Ganjing

lolongan kening berbulu kuning
iringi angin puting
dahan kering
terbanting

memiting
sang bajing
memekik tercekat ranting
daya ungkit terlampau pening

huru hara dedaunan mengering
ringan pasrah terpelanting
tawa bising
melengking

cacing
memeluk beling
melindung selingkar piring
senandung doa rundung berpaling

~Patidusa-Anda Las 20122015
---------

Demikianlah Kumpulan puisi bumi. Simak/baca juga puisi yang lain di blog ini, semoga puisi tentang bumi diatas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.