Skip to main content

Cerpen Pengkaderan

Cerpen Pengkaderan
Cerpen Pengkaderan | Hampir semua kue jualan Dina ludes diserbu pengunjung Monas siang itu. Namun gadis itu justru cemas gara-gara dua pemuda sangar terus mengintilinya sejak sejam lalu. Sambil melayani para pembeli, gadis berjilbab kuning ini terus mengawasi kedua pemuda bertato itu. Setiap kali Dina berhenti, dua cowok itu juga berhenti, berpura-pura memeriksa ponselnya. Saat Dina berjalan lagi, mereka pun kembali mengikutinya.

Akhirnya, saat matahari meninggi, dan tempat itu sunyi, dua pemuda itu mengepung Dina dan memberi isyarat minta uang rok0k. Dina menolak karena enggan jadi langganan pemalakan seperti pengalaman para pengasong lain. Dua pemuda itu murka. Dina berlari ketakutan sambil mengepit keranjang kuenya agar tak tumpah. Dua pemalak itu mengejarnya dan menghentikannya dengan mudah.

Tiba-tiba muncul pemuda lain, bertubuh agak tinggi, atletis, berpakaian sederhana. Ia memberi isyarat agar kedua begal itu segera pergi. Tentu saja dua bandit itu marah dan menyerang si pahlawan.

Terjadi duel dua lawan satu. Si penolong menang dengan mudah. Kedua begal itu mengacir.

“Terima kasih, bang!” ucap Dina berulang-ulang pada pemuda itu yang meresponnya dengan senyum ramah.

Mereka berkenalan. Pria itu bernama Heru. Ia juga pengasong, menjual rok0k. Dina baru melihatnya karena Heru baru semingguan berjualan disitu. Ia dulu mengasong di Terminal Senen. Karena sering terjaring razia Satpol PP, ia pun pindah kesini.

Sejak ayahnya wafat, Heru terpaksa mengasong demi menghidupi dirinya dan ibunya yang renta.

Nasib Heru dan Dina mirip. Gadis ini mengasong demi membayai kuliah adiknya sejak ayahnya menua dan tak mampu lagi bekerja.

Kedua lajang ini sama berharap kelak bisa menabung untuk modal bisnis kecil. Meski itu sukar terwujud gara-gara kian minimnya penghasilan mereka akibat makin membeludaknya pengasong, dan gencarnya razia Satpol PP.

***

Sejak peristiwa itu, Heru dan Dina tiap hari mengasong bareng. Dina amat gembira karena kini ia aman dari gangguan para preman.

Heru juga senang karena tiap pagi Dina menyuguhinya kopi susu, sarapan, dan makan siang gratis yang mereka santap berdua.

Saat Satpol PP merazia, Heru membawa lari jualan Dina ke tempat aman. Dulu hampir tiap bulan Dina terjaring razia karena tak mampu berlari cepat.

Berkat adanya Heru, pendapatan Dina naik drastis terutama karena jualannya tak pernah lagi disita dalam razia. Selain itu, Heru selalu menemaninya mangkal di lokasi-lokasi potensial namun selama ini dihindarinya karena rawan pemalakan, misalnya tempat parkir dimana banyak sopir butuh kue.

Heru juga bersyukur bisa akrab dengan Dina. Pendapatannya ikut melonjak karena rok0knya makin laku. Biasanya para pembeli kue terĘŚngsang membeli rok0k. Ia juga tak perlu lagi keluar biaya untuk sarapan dan makan siang.

Kedekatan Heru dan Dina kian dipermantap dengan seringnya mereka inbox-an di media sosial atau teleponan saat berjauhan.

Yang membuat Heru amat senang ialah Dina ternyata teman ngobrol yang nyambung meski gadis itu mengaku hanya tamat SMP. Diam-diam Heru mengagumi gadis ini.

Tetapi satu hal yang mengusik logika Heru. Sarapan dan makan siang yang rutin Dina sediakan untuknya itu terlalu mewah, terdiri dari berbagai daging dan sayur mahal seperti brokoli, asparagus, kentang. Jika dikalkulasi, cost-nya jauh di atas laba kue gadis itu.

Dari mana Dina membiayai semua itu? Apalagi, menurut pengakuannya pada Heru, Dina tak punya usaha selain mengasong kue.

Namun Heru tak pernah menanyakan itu. Ia kuatir gadis ini tersinggung.

***

Suatu hari, Dina terlambat tiba. Heru menantinya di tempat biasa, di pintu utara Monas, selama dua jam. Dina tak nongol. Heru ngebel berkali-kali namun ponsel Dina tak aktif.

Dengan kesal Heru beranjak membawa asongannya. Namun malang, ternyata sejak tadi sepasukan Satpol PP telah mengepung lokasi itu. Heru tak menyadarinya karena saat menunggu Dina tadi ia melamun.

Heru ditangkap dan digiring ke kantor Satpol PP bersama lebih 40 pengasong lainnya. Di dalam truk pengangkut, Heru amat cemas. Hampir tiap menit ia berusaha menelepon Dina, tapi ponsel gadis itu tetap tak aktif.

Itu tak normal. Biasanya setiap Heru menelepon, Dina langsung menjawab. Setiap mengirim SMS, ia pasti segera membalasnya. Apa yang terjadi pada Dina?

Setiba di kantor Satpol PP, ternyata Dina ada disana bersama kelompok pengasong lainnya yang lebih dahulu tertangkap.

Saat melihat Heru, Dina langsung menyerbu dan merajuk di hadapannya.

“Sabar, Din. Ini ujian Allah.” Heru menghiburnya. Dina mengangguk sambil menghapus tangisnya dengan ujung jilbabnya.

“Seperti pernah kamu bilang, semua ujian bisa bikin kita lulus asalkan kita menjawab soal dengan baik.” ujar Heru pula.

Hari itu, setelah didata dan diberi pengarahan, semua pengasong disuruh pulang. Jualan mereka disita.

Dengan loyo, Heru dan Dina pergi ke taman kota terdekat dan berdiskusi tentang rencana mereka ke depan.

Untuk kembali mengasong, mereka tak punya modal lagi. Mustahil pula meminjam uang dimanapun karena pasti tak ada pemodal yang percaya pada orang-orang seperti mereka.

Akhirnya keduanya sepakat menjadi pengamen. Kebetulan Heru punya gitar tua yang biasa ia mainkan. Dina sendiri pernah jadi penyanyi kasidah di sekolahnya dulu.

Di taman itu mereka mulai latihan dengan gitar tiruan dari mulut Heru. Dina menyanyikan lagu-lagu dangdut dengan suara mendayu-dayu. Banyak pejalan kaki yang berhenti sejenak untuk menikmati pertunjukan mereka.

***

Heru dan Dina pun memulai karir baru sebagai pengamen di bus-bus kota. Memang penghasilannya tak sebesar laba mengasong. Tetapi mengamen lebih santai dan nyaris tak butuh modal.

Meski begitu, tetap saja keduanya masih bercita-cita kembali mengasong karena mereka sudah terbiasa dengan profesi itu. Karena itu, keduanya sepakat menabung penghasilan mereka yang dikelola Dina.

Namun lagi-lagi hati Heru mempertanyakan hidangan mewah yang tetap disajikan Dina tiap hari yang nilainya amat jauh di atas penghasilan mereka. Dari mana Dina mendapat uang untuk itu? Tetapi kembali Heru tak berani mempersoalkannya, kuatir Dina tersinggung.

Jangankan mencari tahu hal sesepele itu. Heru menanyakan alamat rumahnya saja gadis itu langsung bersedih malu karena ia mengaku rumah kosnya sangat kecil dan kumuh.

Sejak rumah menjadi isyu sensitif di antara mereka, Heru dan Dina pun tak pernah berani saling mengajak ke rumah kos masing-masing.


Tetapi Heru tak kuasa menahan rasa ingin tahunya tentang hidangan mewah itu. Ia pun membuat rencana untuk menguak dari mana Dina beroleh uang membiayainya.

Sore itu, Heru pamit pulang dan naik bus seperti biasa. Namun saat busnya tiba di belokan awal, Heru turun, menyeberang jalan, dan naik bus lain ke arah sebaliknya.

Setiba kembali di Monas, Heru turun di tentangan tempat ia tadi meninggalkan Dina. Gadis itu sudah tak ada disana. Heru mencoba mencari-cari. Tak lama, ia melihat Dina berjalan menuju Stasiun Gambir. Heru mengejarnya dengan sembunyi-sembunyi.

Sambil menelepon seseorang, Dina menuju halaman parkir. Disana telah menunggu seorang pria ganteng berpakaian mahal, dekat mobil baby benz keluaran terbaru.

Hati Heru berdebar-debar hebat, apalagi saat melihat pria itu memeluk dan mencium Dina dengan mesra, dan membantunya masuk ke mobil mewah itu. Lalu mobil itu meluncur pergi. Heru sempat memvide0kan semua kejadian itu dengan ponselnya.

Malam itu Heru tak bisa tidur. Hatinya dibakar semacam rasa cemburu dahsyat, walau itu tak beralasan karena hingga kini ia maupun Dina belum pernah menyatakan cinta.

Heru memutar vide0 itu berpuluh-puluh kali. Setiap men0nton ad3gan mesra itu, hatinya hancur berkeping-keping. Siapa pria tampan itu? Apakah ia suami Dina? Atau pacarnya?

Siapapun pria itu, ia pasti amat kaya. Lalu kenapa selama ini ia biarkan Dina mengasong kue dan mengamen bersama Heru?

Siapa Dina sebenarnya? PelĘŚcur? Mustahil. Ia amat taat beribadah. Shalat dan puasanya, termasuk Senin-Kamis, tak pernah alpa kecuali ia haid. Lalu siapa gadis itu? Apa tujuannya?

***

Esoknya, Heru tiba terlambat dua jam dari biasa. Dina sabar menanti meski bermandi peluh.

Melihat kedatangan Heru, Dina tersenyum gembira sambil menyiapkan sarapan mereka berdua.

“Macet ya bang?” sapa Dina berbasa-basi lalu menyodorkan rantang berisi sarapan Heru. Tetapi Heru menolaknya kasar.

Mendadak senyum Dina berobah menjadi sedih. “Abang udah makan?” tanyanya sendu. Heru menggeleng sinis.

“Ada apa Bang Her?” tanya gadis itu terbata-bata.

“Ada ini!” sergah Heru seraya memperlihatkan v!deo kemarin itu.

Dina terkejut dan ketakutan, apalagi saat tiba pada adegan mesra dengan pria itu.
“Bisa nggak kamu jelasin semua ini?” desak Heru geram.

“Maafin aku bang...” Dina pun menangis dan duduk terkulai di atas rumput. Ia segera menelepon seseorang.

“Kamu bohongin aku selama ini. Siapa kamu sebenarnya?” bentak Heru.

Dina hanya bisa terisak sambil berkali-kali minta maaf pada Heru yang makin marah.

Seperempat jam kemudian, muncul mobil baby benz dikemudikan oleh pria yang kemarin itu. Rasanya Heru mau menghajarnya. Di sampingnya ada lelaki lain, berumur 60-an tahun, berwajah penuh wibawa. Saat melihat melihat si tua itu mendadak Heru menjinak.

Kedua orang itu segera mendekati Dina dan menenangkannya.

“Nak Heru, kami mohon maaf sedalam-dalamnya” bisik si tua itu tegar. Lalu ia menjelaskan semuanya.

Ia Dahlan Sukoco, konglomerat kaliber dunia. Ia ayah Dina. Dan si ganteng itu Robby Sukoco, adik kandung Mardina Sukoco alias Dina.

Selama ini Dina menyamar jadi pengasong dan pengamen sebagai metode Dahlan untuk mengkadernya menjadi pengusaha tangguh, sambil “menapak tilas” pengalaman Dahlan yang dulu juga pengasong dan pengamen, bahkan kondektur bus.

Heru tak terkejut. Malah Dahlan dan kedua anaknya itu yang kaget.

Heru memperlihatkan f0to tua di androidnya. Di situ nampak Dahlan bersama pria tua lain bernama Sofyan Susanto, dan Herman Susanto alias Heru saat masih bocah.

Ternyata Sofyan, ayah Heru itu, sahabat terakrab Dahlan sekaligus “malaikat penolong” yang merobahnya dari orang melarat menjadi kongomerat.

Seperti Dina, Heru pun mengikuti amanat almarhum ayahnya yang selalu mengkadernya dengan kurikulum penderitaan hidup.

Cerpen: Sang Mahadewa Cinta
Bumi Allah, 24 Juni 2015