--> Skip to main content
Puisi Pendek Rintihan Hati Yang Tersakiti

Puisi Pendek Rintihan Hati Yang Tersakiti

Puisi pendek rintihan hati yang tersakiti. Hati yang tersakiti sering dikatakan luka yang tak berdarah akan tetapi sakitnya luar biasa melebihi luka nyata, yang nampak dipermukaan kulit. dan seringkali membuat sesorang termenung meratapi luka hati yang dirasakan karena tersakiti.

Rintihan hati yang tersakiti. umunya akan menimbulkan efek bagi merekka yang merasakan sakit hati seperti patah hati, dan apa bila sakit hati karena cinta terkadang mereka menutup hati untuk cinta, danapa bila sakit hati karena cinta dan membuatnya trauma, terkadang orang seperti ini, sudah tak percaya lagi dengan cinta, dan cendrung mengabaikan godaan cinta. beberda dengan sakit hati biasa apa bila sudah di hibur dan ada yang ntakan cinta, biasanya sakit hati seperti langsung hilang.

Begitulah kehidupan cinta yang terkadang hanya indahnya saja yang diingit lalu mengabaikan sakitnya sehingga terkadang dalam cinta disakiti kedua kaliya dengan cara yang sama, ketika terjadi hal seperti ini dapat di katan, tak bisa mengambil pelajaran dari pengallamannya.
Puisi Pendek Rintihan Hati Yang Tersakiti

Mungkin begitulah sekilas tentang puisi pendek rintihan hati yang tersakiti, Nah di bawah ini beberapa puisi telanjʌng yang di beri judul puisi pendek. sebgaimana pengertiang puisi telʌnjang adalah puisi yang tak memiliki judul seperti puisi kita update di kesempatn ini, salah satu penggalan baitnya. "Kuhancurkan rapuhku berpegang ke pundakmu, Kucoba raih hatimu dengan raguku telah menentukan asa rasa. Bahwa sebenarnya Aku telah jatuh, Tapi tak mudah mengungkap rasa". Selengkapnya disimak saja puisi pendek berikut ini

Puisi Pendek rintihan hati yang tersakiti

Melodyku.... Syair yang terlihat...
Bukanlah syair hati seprti syair yg kupersembahkan untukmu....
Kau tetaplah syair dr hatiku...
Oleh hati dan untuk sebuah hati...
Dan hati itu... Adalah hatimu...
Aku masih yang dulu...
Aku masih dewi syairmu...
Begitu kau panggil aku...

Sayang... Kusuka cemburumu...
Tapi jangan hilangkan percayamu...
Kau tau hatiku... Kau tau aku...
Seperti aku juga yangg sangat mengenalimu...

Bagiku.. Kini... Esok... Atau nnti...
Kaulah tetaplah yang terindah...

Jangan meragu...Teruslah...
Sapa aku dengan kecup rindumu...
Pegangi hatiku dengan cintamu...

Lagu cinta kita...
Tetaplah nyanyian antara kau dan aku...
Tetap mengalun di hatiku...

Percaya aku...
Duhai kau dewa melodyku.

Bila ada asa lain yang mengg0da...
Pegangi aku biar tak tergoyah...
Jangan kau murka....
Karna hanya kan membinasakan jiwa...
Telah jauh jalan itu tuk di lalui...
Pantang kembali hanya kan melemahkan hati...
Jangan berhenti... Jangan lelah hati...
Karna tanpamu...
Kubisa terkapar mati...

Kekasih... Jangnlah berlalu...
Dari hatiku ini....
Karna kau... Masih pemilik hati ini.

Ku renungi adaku...
Kujelajahi jiwa sendiri...
Kan kubunuh sepiku dengan hadirmu...
Kan kutikam rinduku dengan bermanja denganmu...
Kan kuhancurkan rapuhku dengan berpegang ke pundakmu...
Kucoba raih hatimu dengan raguku....
Adakah kau di sana tlah menentukan asa...
Yang bukan hanya rasa sesaat....
Bahwa sebenarnya...
Aku telah jatuh... Tapi tak mudah mengungkap rasa...

Ragu yang mengganggu...
Jadi tak tentu hatiku...
Benarkah apa katamu...
Akan katamu yang meyakinkanku...

Kutak seindah puisi-puisi sayangmu padaku...
Kutakut akan mengecewakan dirimu...
Kann kukerahkn seluruh hatiku tuk memahamimu...
Akankah kau datang memang takdir kuasa untukku...

Meski kutak yakin akan kemampuanku....
Kuakan mncoba menyeimbangi dirimu...
Dengan cintaku yang mulai tumbuh dihatimu...

Sayang....
Mari kita saling jajaki diri...
Tuk tujuan yg lebih pasti..

Bila aku suka....
Aku kan katakan suka...
Bila ku tak suka..
Akupun kan mngatakannya..
Dengan cara berbeda..


Tak ada kata yang begitu menyentuh tanpa melibatkan hati...
Membakar gejolak yang terpendam di hati...
Kutak mau menyakiti indahnya sebuah curahan hati...
Karena akupun punya hati...
Yang tak ingin menyakiti...
Bila itu memang ada...

Aku menemukanmu...
Dengan jiwa yg terpanggil dari hati....

Dapat kurasakn lembutmu...
Dapat kurasakan gairah kasihmu...
Dapat kurasakan betapa kau butuhkan aku...

Semua karena cinta terlahir dari hati...
Tak perlu diungkap dengan kata...
Tak perlu melihat dengan mata...
Terpejam pun... Dapat kurasakan dengan hati di jiwa...
Kubukanlah sok puitis...
Tapi karena rasaku padamu...
Kubisa menjadi pujanggawati yang romantis dan termanis...
Untukmu.... Hanya untukmu...

Bukanlah penghiba cinta....
Ku tau kau pencinta wanita....
Yang disetiap dermaga hati...
Kau labuhkan cinta sesaatmu itu...
Terus... Teruslah...Layarmu berkembang...
Jangan kau pikir aku peduli...
Jangan kau kira aku tlah jatuh ditanganmu...
Kau salah...!!!

Bukanlah putri malu...
Begitu tersentuhkan layu...
Bukanlah bunga di tepi jalan...
Begitu kau petik mudah terbuang...
Hanyalah menguji...
Mampukah kau jaga aku...
Mampukah kau bertahan dihatiku...
Dengan keagungan cinta...
Bukan dengan gairah...
Apa yang kau lihat...
Bukanlah yang nyata...

Aku...
Tak semudah daun yang jatuh...


Aku adalah pagimu...
Yang membawa kesejukan diri...
Basahi tetesan embun kasihku...
Yang disetiap tetesnya...
Kukan berucap...:

" Aku sayang kamu...Sayang... "
Kamulah pujangga dihatiku...
Melody...
Di setiap syair lagu cintaku...

Akulah pula siangmu...
Yang kan membakar semangat jiwa...
Pacu diri... Kalahkan kesombongan dunia...

Akulah senjamu...
Yang merona merah jingga...
Rebahkn diri dipangkuanku
Dengan manjamu...
Lampiaskan gundahmu...
Cerita letih diri sewaktu seharian meniti hari...

Kan kudengarkan dengan rasa sayangku..
Kan kusimak dengan rasa cintaku...
Sambil kau...Kubelai lembut di ubunmu...

Kini... Tibalah aku sebagai malammu...
Lamunkan wajahku...
Dikala kau mulai beranjak menuju kekeperaduan...
Tangan tuhan kan mengilhami...
Hadirkan mimpi yg kau impi...
Tentangku... Tentangmu... Tentang kita...
Saat bersama... Saat kita memadu kasih...
Penuh cinta... Di hati...

Mungkin ini cara tuhan...
Tuk mngembalikan aku padanya secara kaffah...
Di diamkan... Di acuhkan...
Di tinggalkan begitu saja olehmu...
Tanpa mau mngerti siapa aku...

Kuhanya menguji...
Mampukah kau bertahan pada satu hati...
Karena aku disini...
Sesungguhnya tlah memilihmu...

Kini... Kuakan menepi...
Meneruskan waktuku yang terbuang...
Walau jauh di lubuk hatiku...
Kumasih ingin bersamamu...
Bukanlah aku yang tidak memahamimu...
Tapi kaulah yang tidak mengerti aku...

Memanglah tak mudah melupakan...
Memanglah tak mudah membuka hati...
Ku akui itu...

Dulu... Kau datang saat hati menyendiri dan sepi...
Kau hibur hati ini melawan gundah yg menyakiti...
Tanpa kusadari...
Namamu mulai terukir di hati...
Dengan warna tinta yg sama...
Seperti kegemaran hati...
Namun di tengah teriknya hari...
Kucampakkan rasa ini...
Demi sebuah harga diri...

Hoohh...
Ini sungguhlah menyiksa hati...
Berselimut kemunafikan...
Beratapkan keegoisan...
Yang dilapisi kegengsian...
Keras hati...

Nyata diri...
Memanglah tak pasti...
Menyayangi tak mesti mencintai...
Pun mencintai...
Tak mesti memiliki diri...

Sesungguhnya...
Kita sama saling memendam rasa...

Membunuh sepi di tengah kekalutan hati...
Aku telah terbiasa menyendiri...
Aku tlah terbiasa terhinakan...
Aku tlah terbiasa di campakkan...
Bukanlah cinta yang membahagiakan...
Apalagi sekedar keyakinan di atas ketidakjujuran...

Benahi hati...
Jangan pungkiri asa yang ada hati...
Bilapun kau pergi...
Aku takkan mencari...
Tuhan pegangi diri...
Agar kutak lupa diri...
Mencari yang hakiki...
Menanti yang sejati...
Abaikan apa yang di rasa di hati...
Jati diri adalah penghargaan tertinggi...
Tak ada penawaran lagi...
Itulah mungkin yang di sebut harga mati..

Seandainya bisa kupeluk waktu...
Kan kupeluk erat...
Dan tak kubiarkan berlalu untuk berganti...
Seandainya aku pengendali takdir...
Akan kupilih kau sebagai takdirku...
Seandainya kubisa mati untuk sehari saja...
Akukan tau...
Menangiskah kau disaat aku tlah tiada...
Aku kini rapuh tanpamu.

Di mana ada mawar merah merekah...
Di situlah kau hinggap...
Dimana ada bening....
Di situlah kau kepakkan sayapmu...
Kau bagai petualang....
Yang takkan berhenti bila masa tak terhenti...
------------------

Demikianlah puisi pendek rintihan hati yang tersakiti Baca juga puisi pendek yang lain kami update di blog ini, semoga tentang rintihan hati yang tersakiti diatas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.
Supaya mudah mengakses Puisi Dan Kata Bijak di smartphone, klik ikon 3 titikdi browser Chrome kemudian pilih "Tambahkan ke layar utama". Selanjutnya bisa mengakses Puisi Dan Kata Bijak dari layar utama smartphone dengan klik ikon Puisi Dan Kata Bijak.
Buka Komentar
Tutup Komentar