Puisi Tak Selamanya Terik Mencekik
Puisi Tak Selamanya Terik Mencekik

Puisi Tak Selamanya Terik Mencekik

Puisi tak selamanya mencekik. Dibalik panasnya cuaca hari ini, bertebaran hasil f0tosintesis yang vitʌl untuk semua mahluk hidup, Oksigen, hasil dari proses pemasakan karbon dioksida di pokok dedaunan, Paru-paru kehidupan bermula dari pepohonan rindang yang menaungi tiap jengkal tanah yang redup.

Pragraf diatas salah satu penggalan bait dari dua puisi di kesempatan ini, adapun masing masing judul puisinya antara lain.
  1. Puisi musim apa ini
  2. Puisi Tak Selamanya Terik Mencekik
Bagaimana cerita dan makna dari kedua puisi tersebut, untuk lebih jelasnya silahkan disimak saja puisinya berikut ini.

Puisi Tak Selamanya Terik Mencekik
Karya: Satria Panji Elfalah

terik mentari terasa menyengat di kulit ..
Kenari pun enggan bersua sembari menari ..
Yang terlihat hanya gemawan berarak menaungi lantai hutan sekelumit ..
Jalan setapak ini berujung di sebuah tebing cadas bergerigi ..

Di pokok pinus terlihat sepasang kupu-kupu tengah bermanja ..
Tak menghiraukan panas yang sekonyong-konyong mampu menghanguskan sayapnya ..
Tupai berlari dari cabang ke cabang lainnya mencari tempat berteduh ..
Kadal pun tak kuasa berlama lama berjemur karena peluh ..

Dibalik panasnya cuaca hari ini, bertebaran hasil f0tosintesis yang vitʌl untuk semua mahluk hidup .
Oksigen, hasil dari proses pemasakan karbon dioksida di pokok dedaunan ..
Paru-paru kehidupan bermula dari pepohonan rindang yang menaungi tiap jengkal tanah yang redup .
Hijaukan cuaca gersang dengan daunnya yang rimbun tempat berteduh mahluk kepanasan ..


Puisi Musim Apa Ini
Karya: Ns. Asrudin

Kulihat matahari belum meninggi
Tidak kudengar selembut suara angin yang menggesek-gesekkan daun bambu
Hanya gemiricik air dari ibu memeras baju
Matahari belum meninggi, kulihat dari sudut rumah yang sunyi

Musim ini belum panen padi
Burung-burung kian murung
Di dekat jendela kulihat mereka bingung
Sebab matahari belum meninggi

Bulan apa ini
Secepat angin pergi ketika ingin hanyalah angin

Tegal, 7 Mei 2016


Demikianlah puisi tak selamanya terik mencekik. baca juga puisi-puisi yang lain yang ada di blog ini. Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat, Jangan lupa di share puisinya, bila menurut anda menarik... Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya dengan label aneka puisi. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.
Advertisement

Baca juga:


Your Reactions:

Buka Komentar